FF Debut Duo Hyeri// Here I Am / ZE:A/ part 1 of 2


halo readers sekalian.. apa kabar :Dpiia balik lagi ni, tapi bukan ff yang di bikin sendiri. tapi duet sama emaknya piia, Choi Roza. ahahaha 😛 *peace..

kali ini pake castnya Ze:a .. buat yg pengen tau wajah” barunya ntar di part 2 dikasi foto dah.. jangan bosen baca karya kami ya readers >,<

di tunggu rcl-nya lohh..

cekidoooootttt ~~~~

 

Tittle                      : Here I Am Part 1

Author                  : @RM_piiapiio + @Roza Choi

Cast                       :

1.       Choi Hyunri as Hyunri

2.       Kwon Hyehoon as Hyehoon

3.       Park Hyungshik as Hyungshik

4.       Ha Minwoo as Minwoo

5.       Kwon Ji Yong as Hyehoon’s father

6.       Choi Jonghun as Hyunri’s father

7.       Ham Eunjung as Hyunri’s Mother

8.       And other cast

Genre                   : Romance, kekerasan

Rating                   : PG-15

Length                  : Two Shots

 

Hyunri’s POV

 

“dasar tak berguna!”

PLAKKK!! sebuah tamparan keras mendarat di pipi kiri wanita cantik itu.

“eomma..” bisikku lemah.

Aku merangkak mendekatinya, membelai pipinya yang membiru. Kutatap nanar sosok lelaki di hadapan kami.

 “appa.. kenapa kau tega sekali? Memang apa salah Eomma? APA SALAH KAMI?!!!”

 PLAKKK!!!

 kali ini di pipiku. Aku tertunduk lemas. Eomma merengkuhku, memelukku erat. Walau ia tak kuasa menahan tangisnya.

“sudah nak..” desisnya meyakinkanku.

“kalian berdua sama saja! Hanya menyusahkanku! Berikan aku uang, atau aku akan memukulmu lagi!!” sepasang mata tajam itu terasa sangat ingin menusukku.

“aku.. juga tidak punya uang..”

 

“haaahhh apa-apan kau ini!! Pergi kalian! Jangan muncul dihadapanku lagi!! Kalau tak bisa memberi apa yang kuminta, jangan sekalipun menampakkan muka kalian yang menyedihkan itu!!!” ia mendorong kami dengan kasar, dan melempar beberapa helai pakaian.

 

BLAMMM!

 

Pintu dibanting dengan sangat kerasnya. Eomma masih terus menangis, menatap rumah yang tak bisa menerimanya kembali. Bayangkan saja bagaimana perasaanmu jika kau di usir oleh orang yang sangat kau sayangi. Mungkin dia teramat kejam, tapi bagaimanapun juga dia adalah darahku. Aku mencoba menahan amarahku ketika mengingatnya adalah appaku- Choi JongHun.

 

 “eomma.. kita harus bagaimana sekarang? Kita mau tinggal dimana? Hanya itu satu-satunya rumah yang kita miliki kan? Kenapa appa merampasnya? Kenapa eomma?” kupeluk wanita yang kuyakini sebagai ibuku ini.

 Ia membelai rambutku lembut. Bibirnya membuat sebuah lengkungan bulan sabit, tapi kurasa itu hanyalah senyum yang dipaksakan. Walau seperti ini, ia masih berusaha tegar di depanku. Eomma satu-satunya yang kusayangi, dan kini hanya dia lah hartaku yang paling berharga.

“sudahlah.. jangan menangis sayang, kita pasti akan menemukan tempat tinggal, percaya pada eomma ya?” aku mengangguk. Sangat menyakitkan melihatnya seperti ini. Ia menipuku dengan wajah ikhlasnya, aku yakin eomma pasti sangat sakit. 

“Choi Jonghun! Awas saja kau! Suatu saat nanti pasti aku akan membalasmu! Lihat saja, aku dan Eomma tak kan mati secepat ini! Haaaa aku membencimu!!!” pekikku sebal

 

“Hyunri.. kau tak boleh begitu pada appa mu sendiri, bagaimanapun, jika dia tak ada, kau juga tak akan lahir..” ujar Eomma setengah berbisik mencoba menenangkanku.

“aku juga tak minta dilahirkan, karna aku lahir eomma menderita kan? Dia itu bukan Appa ku.. appa tidak jahat seperti itu.. bagaimana mungkin seorang ayah tega memukul anak istrinya setiap hari.. apa itu tak keterlaluan!” aku membela diriku sndiri. Melemparkan umpatan yang memang sudah lama ku pendam sedari dulu. Aku tak rela !!

“sudah, jangan benci Appamu! Ayo kita pergi..” wanita cantik itu menggenggam tanganku, dan menyeretku mengikutinya. Dia masih sangat cantik,

“Ham Eunjung eomma.. saranghae..”

 

                                                                                                ***

Kabut-kabut tipis menyebar rata di seluruh kota Seoul. Ini musim panas, tapi cuaca hari ini sangat ekstream. Semilir angin serasa menusuk tulang, dingin. Kabut itu kian menghitam, membentuk gumpalan awan yang siap menumpahkan air matanya. “eomma.. hujan..” tanganku menengadah, merasakan tiap tetes air hujan yang jatuh menimpaku. Langkah kami terhenti.

“ayo kita berteduh, jangan sampai kita mati kedinginan disini!” Eomma menyeretku menyeberang jalan. Karena sangat gelap, kami tak melihat ada mobil yang akan melintas.

 

TIIINNNN… TIIINNNNNN…!!!!

 

“eomma awaaaassss..!!!” kudorong tubuh ibuku kesamping jalan raya, namun mobil itu berhenti mendadak. “untung saja, aku tidak jadi tertabrak..”

 

Seorang lelaki dewasa keluar dari mobil sport hitam itu, menatap kami bergantian. “pasti sebentar lagi ia akan mengamuk dan meminta ganti rugi..lihat saja !  wajahnya saja tak kalah menyeramkannya dengan Appa.. hii” aku bergidik pelan, menggelengkan kepalaku berkali-kali dengan mata yang masih terpejam.

“kalian tidak papa? Apa terluka?” ucap lelaki itu.

 

Aku melongo mendengar ucapannya barusan, tak percaya. “eh? Kenapa dia tidak marah?” kubuka kedua kelopak mataku, berusaha menatapnya. Walaupun wajahnya seperti itu, tapi dia baik juga ternyata.. “nde, kami tak papa.. maaf merepotkan.. kami tak melihat ada mobil yang melintas.. jeongmal mianhae..” ujarku sembari membungkuk. Aku menarik tangan Eomma untuk bangkit. Aku harus segera pergi, tubuh kami sudah basah kuyup. Aku tidak ingin mati disini sekarang juga karena kehujanan.

“aa.. tunggu.. aku bisa mengantar kalian.. ayo masuk mobilku..” aku dan eomma saling pandang, tapi akhirnya kami mengiyakannya saja. Entah kenapa kami menerima begitu saja uluran tangannya tanpa berfikir, ‘mungkinkah dia akan mencelakai kami?’

 

Mobilnya mulai melaju melintasi jalanan suram ini. Namun kami juga tak tau harus pergi kemana.. “kalian mau kemana?” tukasnya membuka pembicaraan.

 “mollasseo.. kami tak punya rumah.. kami baru saja diusir oleh Appa ku..” sahutku enteng.

“huss.. jangan bicara seperti itu! ah mianhae.. putriku memang seenaknya..” Eomma menyenggol tubuhku sedikit kasar. Laki-laki itu sesekali melirik ke arah spion.

“bagaimana kalau kalian tinggal di rumahku saja? Aku juga memiliki seorang putri seusia putrimu.. dan rumahku cukup luas untuk tinggal 4 orang saja, eotte?” tawarnya. Kami saling pandang lagi.

“aa.. apa kami tak merepotkan?” tanya Eomma sedikit ragu.

“haha tentu saja tidak, kenalkan namaku Kwon Jiyong, kalian?” ia balik bertanya.

“Ham Eunjung imnida, dan ini putriku Choi Hyunri..” aku melihat mata cantik Eomma lagi. Apa mungkin Eomma jatuh cinta pada Ahjussi ini? Ya ampun, apa aku harus punya Appa baru lagi? Andwae.. bisa-bisa aku dipukul lagi setiap hari.. eomma jebal.. jangan percaya laki-laki.. >.

 

                                                                                                ***

 

Rumah yang sangat besar dan megah. Rumah modern dengan fasilitas yang mungkin cukup lengkap. Ah~ kapan aku dan eomma bisa punya rumah seperti ini? Tidak mungkin ! sadar Choi Hyunri ! kau hanya orang miskin.  Kuitarkan pandanganku ke sekeliling. “daebak.. ahjussi ini pasti orang kaya..” gumamku. Kami berdua hanya mengekor di belakangnya.

“Hyehoon.. hyehoon…” ia memanggil seseorang, mungkin anaknya.. dan benar saja, seorang yeoja yang sepertinya 1 tahun di bawahku mendatangi kami. Ia memandangku sinis. Dari wajahnya saja aku bisa menebak anak ini seperti anak gadis kota lainnya yang suka merendahkan orang yang tidak selevel dengannya.

“siapa dia Appa?” dengan wajah arogannya ia terus menatapku. Sudah kukira, pasti dia akan merendahkanku karena pakaian lusuhku.

“dia Hyunri, dan yang ini Eomma nya Ham Eunjung. Mulai hari ini, ia akan tinggal bersama kita..” terang Jiyong Ahjussi panjang lebar.

Namun sepertinya anak gadisnya tak suka akan kedatangan kami berdua. “Appa, kalau kau ingin mencari istri sih boleh saja.. asal tidak seperti gembel macam mereka, cih”

 

Aku terkesiap. Terlihat Eomma ku juga mulai berkaca-kaca. Eomma mencoba bersabar menanggapi semua cacian itu. Andai aku bisa sudah ku robek mulut liciknya itu untukmu eomma. Aku menggenggam tangan Eomma rapat-rapat. Kenapa harus menghina Eommaku?

“Hyehoon! Jaga bicaramu! Appa tak suka kau seperti ini!” bentak Jiyong Ahjussi pada putrinya sendiri. Tapi ia hanya mendengus, dan meninggalkan kami yang mematung disini.

 “mianhae.. putriku memang seperti itu, tapi lama-kelamaan dia pasti akan baik pada kalian.. ayo ikut aku..” ajaknya. Ia menunjukkan 2 kamar besar, satu untukku dan 1 untuk eomma.

Baik sekali dia, tapi sayang, kenapa anaknya seperti itu..

 

                                                                                                ***

 

Sebuah bed lebar, dan empuk. Seperti yang ada di negri dongeng saja, aku mana pernah tinggal di kamar seluas ini.. kalau appa tau, apa yang akan dilakukannya ya? “hei sini kau! Enak saja malah bersantai di kamar layaknya tuan putri!” tak disangka, gadis bernama Hyehoon itu masuk kamarku dan menjambak rambutku.

“aahh.. sakiit.. lepaskan Hyehoon.. jebal..” ujarku merintih.

“mimpi kau! Ohya, panggil aku agasshi! Kau jangan macam-macam padaku di rumah ini, arasseo?!!!”  bentaknya sembari mengeratkan tarikannya pada rambutku.

“kyaaa.. ne ne.. hye.. agasshii..” sahutku lemah. Ia mendorongku hingga terjatuh di kamar mandi. Pelipisku mengenai pinggiran bath tub dengan keras.

“aaww…” cairan kental kehitaman mengalir ringan dan menetes perlahan.

 “hahahaha.. rasakan kau! Nih, cuci semuanya! Setelah itu, bersihkan kamarku, jika tidak jangan harap bisa makan!” ia tertawa lepas. Sepasang bola matanya menusukku tajam. Aku bangkit, walaupun terasa nyeri, memunguti helai demi helai pakaian kotor yang dilemparkannya padaku.

“kalau begini caranya, lebih baik aku tinggal bersama Appa yang kejam itu, huh! Tapi, kasihan Eomma.. setidaknya, Hyehoon tak berani menyentuh eomma ku disini.. baiklah, aku harus kuat..fighting Hyunri fighting!” aku menyemangati diriku sendiri sambil menahan tangis dan luka yang menghujam setiap detik.

 

Kwon Jiyong’s Home, Dinner..

 

“Hyunri.. pelipismu kenapa?” tanya Jiyong Ahjussi begitu kami sedang makan malam bersama. Eomma memandangku panic, sementara Hyehoon.. gadis itu.. membelalakkan matanya kearahku, sembari mengayun-ayunkan pisau makannya.

“err.. gwaenchanna.. hanya terbentur sedikit tadi.. sudah tak papa kok..” sesuap nasi yang masuk ke mulutku terasa pahit. Gadis itu pasti sedang tertawa penuh kemenangan. Air mataku kutahan agar tak keluar. Aku tak ingin membuat Eomma sedih..

 

                                                                                                ***

 

Tak terasa, seminggu berlalu.. dan penyiksaan yang selalu kudapat di rumah ini. Aku ingin pergi, tapi sepertinya Eomma sudah bahagia tinggal bersama Jiyong Ahjussi. Lalu aku harus bagaimana? Ijen eotteohkaeyaa?

“hey! Sini kau!” lagi-lagi teriakan gadis sombong itu membuyarkan lamunanku. Dengan enggan aku beranjak, menuju padanya.

BUGHH!

Beberapa buku tebal dilemparkannya padaku. “kerjakan itu!” bentaknya. Aku terdiam. Aku mana bisa mengerjakan ini, sekolahku saja terputus ditengah jalan karna masalah ekonomi.

“aku tidak bisa agasshi..” sahutku.

 “MWO? Kau berani membantah perintahku?!! Dasar anak tak berguna!! Anak gembel!! Kau tak pantas tinggal disini!!” ia bersiap mengayunkan tangannya, aku hanya pasrah saja. Sudah biasa kuterima perlakuan seperti ini..

“STOP HYEHOON!” aku terbelalak kaget. Seorang namja menahan tangan Hyehoon yang hendak dilayangkan kearahku. Namja itu.. sangat tampan..

“ani ani..” aku menggelengkan kepalaku berkali-kali.

 

Hyehoon menepis tangan itu, dan kembali menatapku tajam. “Hyehoon, kau tak boleh seperti itu pada orang lain! Ayo minta maaf!” ujarnya, namun Hyehoon tetap terdiam. Sejenak kemudian, ia melengang pergi dengan raut wajah kesal.

Namja itu berjongkok di depanku, “gwaenchannayo?” aku mengangguk. “Park Hyungshik imnida.. aku guru les Hyehoon, kau siapa?” tanyanya kembali.

“hyunri choi. Aku tinggal bersama eomma ku disini karena ajakan Jiyong Ahjussi. Sudah sepantasnya aku menuruti perintah Hyehoon agasshi..” sahutku lemah.

“mwo? Dia menyuruhmu memanggil agasshi? Keterlaluan sekali anak itu,” ia memunguti buku-buku yang dilemparkan Hyehoon padaku.

“tak papa oppa, kali ini aku memang tak bisa menerima perintahnya bukan karna aku tak mau tapi karna sekolahku putus di tengah jalan. Aku mana bisa mengerjakan semua itu..” ia menatapku iba. Tapi aku tak suka dikasihani.. terima kasih Tuhan, setidaknya kau masih memberi kami 1 orang ‘lagi’ yang mau menerima keadaan kami. Gomapta Hyungshik oppa~

 

                                                                                                ***

 

Hyehoon’s POV

 

“Haahh.. kurang ajar, aku gagal membuat anak gembel itu menangis! Kalau begini caranya, kapan dia akan keluar dari rumahku, huh” teriakku jengkel. Drap.. Drap.. Drap.. derap langkah kaki kian mendekat ke kamarku.

“Hyehoon.. kau jangan begitu lagi dengannya, apa kau tak kasihan, dia tak punya rumah, appa mu sendiri kan yang mengajaknya tinggal disini?” Hyungshik, guru les ku.. kenapa dia nyerocos seperti ini sih.

“oppa, apa dia mengiba padamu? Aih, jangan dengarkan dia.. dia itu sering berbohong.. percayalah padaku oppa, ne?” aku bergelayutan manja di lengan kekar hyungshik. Namun dengan sigap ia menepisku. Tanpa berkata apapun lagi, namja jangkung itu meninggalkanku mematung sendirian. Kenapa dia sekrang berubah padakku? Park Hyungshik ku yang dulu selalu hangat membimbingku kini jadi acuh? Sial !! ini gara-gara kau Choi Hyunri ..

“huh, apa sekarang aku gagal mendapatkan cinta Hyungshik gara-gara gadis itu? menyebalkan!!!”

 

“aku ingin clubbing sekarang!” kuambil tas tanganku yang harganya super mahal ini, stiletto merah menyala dan dompet plus 5 kartu kredit yang kupunya. Aku ingin menenangkan diri sekarang! Aku ingin wine! “haaaa aku benci 2 gembel yang mengusikku itu!” dengusku.

 

                                                                                                ***

 

1 teguk.. 2 teguk.. tak sadar aku telah menghabiskan  sebotol wine di tengah-tengah dunia gemerlap ini. Botol kedua, seseorang merebutnya. “berhenti minum wine ini!” bentak seseorang. Aku mengerjap-ngerjapkan mataku beberapa kali, namun tak bisa kulihat wajahnya dengan jelas. Siap orang ini berani sekali mengangguku? Mau cari masalah juga?

 “ayo ikut aku!” dia menyeretku dan memaksaku memasuki mobilnya. Sekarang aku bisa melihatnya dengan jelas.

Yah aku mengenalnya, “Ha Minwoo.. kau kah itu?” kataku asal. Lelaki berambut pirang pemilik bibir seksi, ah kurasa dia memang benar Ha Minwoo.

“kenapa kau seperti ini?” tak menjawab pertanyaanku, ia justru balik bertanya. “hyungshik.. hah orang itu..”

 

“sudah berapa kali kubilang, Hyungshik itu tak menyukaimu! Apa kau tak bisa lihat hah? Kau bahkan tak tau siapa sebenarnya yang menyukaimu!” bentak namja di sampingku ini. Ia menatap nanar mataku.

“memang tau apa kau soal Hyungshik? Cih” aku melempar pandang ke luar kaca mobil. Ucapannya sangat menyakitkan, apa memang apa kurangku? Aku kaya, cantik, berpendidikan pula. Orang macam mana yang gila menolakku?

“Hyehoon, dengarkan aku!” ia menarik daguku agar menghadap kearahnya. “dengar ya, aku bersahabat dengan Hyungshik sudah lama, dan dia juga sering cerita padaku! Dia tidak menyukaimuHye Hoon-a.. aku yang menyukaimu!” aku terlonjak kaget. Mataku membola, menatapnya penuh tanya.

 

“Minwoo-a..” bisikku pelan. Ia tak menjawab. Segera dinyalakan mobilnya, mengantarku pulang. Di jalan kami saling diam, membisu sampai perjalanan usai. Tak pernah ku sangka dia bisa berkata seperti itu padaku, apa aku mimpi? Tidak ! aku tidak bermimpi, aku yakin itu. Kutatap lagi paras tampannya, dia teramat sempurna untukku ! Ha Minwoo, apa kau tak salah bicara padaku?

 

                                                                                                ***

 

Someday..

 

Hyunri’s POV

 

“Hyunri.. sini..” namja yang kukenal melambai-lambaikan tangannya memanggilku.

“Hyungshik oppa? Wae geurae?” tanyaku sembari mendekat kearahnya. Hari ini seharusnya jadwal les Hyehoon, namun entah pergi kemana dia.. apa dia marah dengan hyungshik oppa ya? Ah entah..

 

“aniya.. kau mau belajar denganku tidak?” tawarnya.

“a? baiklah kalau begitu..” sahutku tersenyum, sembari duduk di sampingnya. Ia menjelaskan berbagai hal yang sama sekali tak kuketahui, satu persatu.. ia begitu telaten mengajariku.. hatiku mulai bergetar, ada apa ini? Hatiku berontak !

“waaa.. kau pintar sekali.. tak kusangka, begitu mudah mengajarimu.. hhaha” lelaki berparas tampan itu mengacak rambutku lembut.

“tentu saja, siapa yang tak akan bersemangat jika mempunyai guru yang sangat tampan..hihihi”

 

Kami berdua tertawa lepas. Nyaman sekali berada di sampingnya.. “Hyunri-a..” panggilnya. Aku menoleh, memandang manik hitam milik seseorang yang sangat kusukai itu. “saranghae..” sebuah kata namun mendalam. Aku tak percaya degan yang barusaja kudengar.

 “na do saranghae..” akhirnya kata-kata itu juga terlontar dari bibirku. ia tersenyum manis, lalu mendekatkan wajahnya, sejenak kemudian pipiku merona merah. Bayangkan saja, saling bertatap dengan pujaan hati dengan wajah yang tak lebih dari 1 cm ini..

 

CHUUU~~~

 

tak disangka-sangka, bibirnya sukses mendarat di bibirku. Lembut dan sangat dalam. Aku tak mampu berkata apapun lagi, rasanya seperti melayang. Membuat heart beatku berdetak tak beraturan. Aku memejamkan mataku, menikmati di setiap ciumannya.

 

PRANGGG!!!

 

Kami berdua terlonjak. Hyungshik melepaskan bibirnya. Sepasang mata menatap kami dengan penuh kebencian. “Hyehoon..”

 

-tbc-

gimana? jelek kah? iyee kami ini duo amatir paling merana didunia TT *lebehhhhkalo ga mau di tag part selanjutnya silahkan comment aj ya.. gapapa kok.. kami dah kebal kritik :Dpart 2 akan dateng minggu depan.. *emang ada yang nunggu –a

ahahaha.. byebye ~~ #tebar bias

Dipublikasi di Duo Hyeri, FF, ZE:A, ZE:A Minwoo | Meninggalkan komentar

all bout Ha Min Woo ZE:A


Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Dipublikasi di Photos, ZE:A Minwoo | Meninggalkan komentar

Take Me Away / Be My Girl | U-KISS Fict


Dipublikasi di Uncategorized | Tag , | Meninggalkan komentar

Take Me Away / Just a Dream? (nc-17) | U- KISS Fict


Title : Take Me Away

Sub-title : Just a Dream ? (nc 17)

Author : @piiapiiapiio

Cast :

Shin hyesoo as dongho’s sisters

Shin dongho as hyesoo’s sisters

Shin soohyun as hyesoo and dongho’s father.

Lee eusebio as soohyun’s friend.

Lee kiseop as eusebio’s son.

And other cast.

ini ff nc yang biasa sih menurutku :O gada yang spesial, mungkin alurnya aja beda. karna genrenya emang romance, oke happy reading ya 🙂
buat yang mau ninggalin jejal itu lebih bagusssssssssssss 😛

“kenapa kau tak memakai sepatu pemberianku?” omel kiseop yang melihat pacarnya tidak memakai sepatu yang ia berikan.

 

“come on~ itu hal sepele kiseop. Aku janji akan memakainya lain kali. Aku terburu-buru tadi.” sergah hyesoo seolah tak bersalah.

 

“oke, untuk hari ini aku maklumi, namun jika kau ulangi. Maka akan ku cium kau. Haha~”

 

“aku benci padamu !” hyesoo nyengir sambil melipat tangan didadanya.

 

“sial ! Kenapa bisa turun hujan sederas ini ?” kesal kiseop sambil memukul kemudi mobilnya.

 

“sepertinya tuhan tak merestui rencana kita..” (u.u)

 

“kita kembali kerumahku saja. Aku tak ingin nyawa kita terancam jika ngotot pergi..” usul kiseop.

 

“mari~” kiseop mengajak hyesoo memasukin rumahnya setelah mereka sampai.

 

Mereka berdua pergi menuju ruang keluarga dan duduk bersampingan di sofa.

 

“kau lapar?” hyesoo menoleh lalu memegangi perutnya.

 

“ada makanan?”

 

“entahlah~ mari kita buat saja.” kiseop beranjak.

 

Hyesoo hanya mengekor menuju dapur yang ternyata letaknya tak begitu jauh dari tempat mereka tadi.

 

Kiseop membuka lemari pendingin dan menjulurkan kepalanya kedalam. Mencari sesuatu yang dapat segera ia makan.

 

“nihil~ kau mau masak?” tawarnya.

 

“ani.. Kau saja yang masak. Aku ga bisa masak.” tolak hyesoo.

 

“kau payah !” ledek kiseop.

 

“biarin~” jawab hyesoo dengan santainya.

 

Kiseop memotong beberapa buah yang ada di kulkas. Sementara hyesoo hanya memandanginya dari samping. Ia menyadarkan tubuhnya di meja.

 

“aku haus kis !” rengeknya pada kiseop.

 

“ambil saja di kulkas, kau kan punya tangan dan kaki sendiri.” masih tetap fokus memotongi buah.

 

Hyesoo berjalan mendekat kearah kulkas. Ia memasukkan kepalanya menyusuri kulkas. Menatap setiap jengkal sisi kulkas, dan matanya tertarik pada dua buah botol kaca berwarna hijau.

 

“kis, apa ini?” tanya hyesoo dalam posisi semula.

 

Kiseop memindahkan buah yang sudah ia potongi tadi. “yang mana?”

 

“yang ada di botol hijau ini.”

 

Kiseop memutar bola matanya sambil mencerna penyataan pacarnya.

 

“soju~ kau mau?”

 

“itu kan arak, mana boleh aku meminumnya?” hyesoo mengeluarkan kepalanya dan menatap kiseop.

 

Tersenyum, “kau itu bodoh atau tolol ? Memang benar itu arak beras. Kau orang korea tapi tidak tau?” cibir kiseop.

 

“appa tak pernah memberiku seperti ini. Aku pernah melihatnya saat dirumah hyokyo. Orang tuanya meminum itu.” hyesoo menjawab apa adanya.

 

Kiseop mendekatkan diri, membuka lemari esnya lebih lebar dan mengambil 2 botol yang jadi perdebatan barusan.

 

“cobalah~” tawarnya sebelum akhirnya ia mengambil pengungkit untuk membuka penutup botol itu.

 

Hyesoo menatap kiseop masih dengan rasa penasaran. “enak?”

 

Ternyata kiseop sudah membuka penutup dan menegak soju di tangannya. “aaah~” lengguhnya. “ini bisa menghangatkan tubuhmu saat kau merasak kedinginan.” tambahnya.

 

Dengan ragu-ragu hyesoo mencoba mengambil pengungkit dari tangan kiseop dan membuka tutup botol tersebut.

 

Ia menatap kiseop ‘tidak bahaya kan?’ , seolah masih meminta pendapat kiseop. Hanya anggukan yang diberikan kiseop. Perlahan rasa ragu hyesoo memudar seiring dengan persetujuan kiseop.

 

“iuuh” hyesoo nyengir kuda setelah menelan seteguk soju itu. “rasanya aneh ?”

 

Kiseop menertawainya. “kau itu , ku kira kau anak yang pandai. Ternyata bodoh sekali.. Haha”

 

Hyesoo mendelik menatap kiseop.

Hyesoo mendelik menatap kiseop, merasa terremehkan. “cih~ kau menghina?”

 

“hehe kau marah sayang?” kiseop memasang aegyo.

 

Hyesoo menatap sinis kekasihnya dan pergi menuju ruang keluarga, masih dengan botol soju tentunya. Ia melempar tubuhnya ke sofa dan menyalakan tv yang ada di hadapannya. Di dapur kiseop hanya cengar-cengir menertawai tingkah pacarnya. Ia mengambil piring berisi potongan buah dan soju di kedua tangannya, menuju ruang keluarga.

 

“kau masih marah?” tanya kiseop, meletakkan piring dan botol diatas meja. Dengan hati-hati ia menduduki sofa tepat di samping kekasihnya. Hyesoo memasang raut wajah muram dan memaksakan diri konsen pada acara di tv.

 

Kiseop mencoba mencolek lengan pacarnya. Namun reaksi yang ia dapat adalah hyesoo bergeser menjauh. Kiseop mulai merajuk dan memasang aegyo di depan hyesoo.

 

“lepaskan tanganmu !” seru hyesoo sambil mengibaskan tangan kiseop dari lengannya.

 

“kau harus janji tidak akan marah ya?” tawar kiseop. “kalau kau tidak suka, aku bisa mengambilkanmu jus jeruk di kulkas.”

 

“baiklah.” hanya jawaban singkat yang diterima kiseop.

 

Dengan segera ia melepaskan genggamannya dari lengan hyesoo. Kiseop kembali ke dapur untuk mengambil jus yang ia janjikan barusan. Membuka kembali lemari es di dapur dan menuangkan 2 gelas jus jeruk. Di tempatnya, hyesoo mulai lagi kebodohannya.

 

Hyesoo coba-coba menegak kembali soju yang ada ditangannya. Ia masih penasaran dengan rasanya.

 

“huaaa ! Apa yang kau lakukan ?” bentak kiseop yang ternyata sudah berdiri di belakang hyesoo.

 

“uhuk~” hyesoo kaget dan tersedak, seketika soju ditangannya lepas dan menumpahi dressnya.

 

“sial , kenapa kau mengagetkanku? Kau ingin membunuhku?” omel hyesoo yang merasa terpojok. Ia malu mengakuinya.

 

Kiseop hanya menahan tawanya, “nyalimu besar juga ya?”

 

Kiseop duduk di samping hyesoo dan memberinya segelas jus jeruk botolan yang dijual di supermarket.

Hyesoo menerimanya masih dengan wajah cemberut. Ia langsung menegak habis jus jeruk yang diberikan kiseop.

 

Hyesoo merasa ada sesuatu yang aneh menjalari tubuhnya. Semakin lama kepalanya kian terasa berat. Tubuhnya berontak menginginkan sesuatu.

 

“kau kenapa?” samar-samar ia mendengar pertanyaan kiseop. Hyesoo memejamkan matanya mencoba menahan sakit di kepalanya.

 

Kiseop menyeruput jus jeruk yang ada di tangannya. Namun hanya setengah gelas yang ia minum. Tiba tiba ia juga merasakan sesuatu yang aneh di tubuhnya. Sebuah sensasi yang kian bergejolak didalam dirinya. Sepertinya ia merasakan bagian vitalnya bergerak menegang. Entah apa itu.

 

Hyesoo masih menahan sakit dikepala dan tubuhnya terasa panas. Tanpa sadar ia melepas cardigan yang ia kenakan.

 

Kini hyesoo hanya memakai dress model kemben saja. Ia menatap mata kiseop, ternyata kiseop juga tengah menatapnya. Sejenak mereka berdua bertatapan, tangan kiseop mendekati tangan hyesoo dan kemudian mereka saling berpegangan namun masih bertatapan.

 

“kau merasakan sesuatu?” tanya kiseop.

 

“ne~ apa kau juga? Rasanya aneh sekali.” kiseop mendekatkan wajahnya ke wajah hyesoo.

 

Mereka saling menautkan padangan beberapa saat. Namun seperdetik kemudian mereka sudah berciuman.

 

 

Cahaya kuning kemerahan menembus kaca dan terpantul masuk di lantai parquet. Sebagian cahaya yang tidak terbelokkan menembus perlindungan mata seorang yang kini mulai terusik.

 

Kelopak mata yang tadinya saling merekat kini sedikit merenggang. Perlahan-lahan mulai terbuka. Sepasang mata yang baru terbuka itu mengedarkan jarak pandangnya menyusuri tiap sudut ruangan yang di cat warna putih. Terasa asing baginya, seperti tempat yang baru pertama ia lihat. Ia baru menyadari dadanya terasa berat, seperti tertindih sesuatu. Hyesoo langsung menyingkirkan benda kekar yang ternyata tangan seorang lelaki. Ia menoleh kesamping dan tampak shock melihatnya, bagai menginjak ribuan pisau. Airmatanya tak kuasa menyembul keluar melalui ekor matanya saat ia tau lelaki yang tidur bersamanya adalah kiseop. Semakin penasaran, hyesoo pun menyingkap selimut tebal yang menutup tubuhnya. Airmatanya semakin mengalir deras seketika, dilihatnya tubuh mereka polos tanpa busana apapun. Hyesoo segera bangkit dan memindahkan tangan yang sempat menindih dadanya. Ditariknya selimut tebal warna putih dan melilitkan ditubuhnya sebelum akhirnya dia pergi menjauh dari lelaki itu. Dengan terisak ia melangkah gontai mencari pakaiannya yang telah tanggal. Terasa perih menyergap dibawah sana. Namun hyesoo tetap berusaha menyeret kakinya melangkah, sesekali ia mengigit bibir bawahnya agar sedikit melupakan sakit di bagian lain.

 

Apa yang telah terjadi padanya membuat hyesoo kehilangan fikiran. Kini entah bagaimana perasaannya, seperti tercacah mungkin *daging kali –a*.

 

“hyesoo-ah~ cepat turun. Appa sudah menyiapkan makan malam dibawah. Cepat turun ! Aku sudah lapar.” teriak dongho dari balik kamar adiknya.

 

Sementara itu, yang di panggil masih terisak memeluk lututnya di pojok kamar. Rasa berdosa selalu membayanginya, belum lagi fikirannya tentang masa depannya yang sudah tak tampak cerah lagi di benaknya. Bayangan hitam seolah tak ingin lepas dari tubuhnya. Perasaan takut, bersalah serta penyesalan yang sangat besar berangsur-angsur menghujam hatinya. Bayangkan jika semua itu terjadi padamu, dikala usiamu masih sangat indah untuk kau gunakan bermain namun semua itu sirna dalam sekejap mata.

 

Mungkin kau juga akan menangis seperti gadis ini, oh bukan, dia bukan gadis lagi sekarang ini. Entah apa itu namanya. Seolah bagai sumber yang tak pernah kering, airmatanya terus saja menetes. Itu membuat bendungan dimatanya mengembang, -sembab. Sejuta pertanyaan menghampiri dirinya, dan hanya dialah yang bisa menjawab semua itu. Terbesit sebuah ide untuk mengakhiri hidupnya.

 

“sayang~ apa kau di dalam?” tiba-tiba sebuah suara membuyarkan lamunan hyesoo. Suara lembut bagai malaikat yang selalu berada disampingnya. Namun tidak untuk peristiwa tadi pagi.

 

‘kreeek’ pintu kamarnya kini terbuka, dan nampaklah si pemilik suara malaikat tadi.

 

Perlahan langkah kaki semakin mendekat. Hyesoo memendam kepalanya diantara pelukan lututnya, sesenggukan akibat tangis masih terdengar memenuhi ruangan.

 

“apa yang membuatmu menangis?” hyesoo mengangkat wajahnya yang terbenam dan menatap sosok yang berdiri dihadapannya. Perasaan nista semakin mendesak hatinya, tak tega ia menatap sosok itu. Hyesoo bangun dan memeluk malaikat tak bersayapnya itu. Airmatanya semakin menjadi deras. Ia merasa jadi makhluk paling menjijikkan saat ini. Bagaimana bisa ia menyalahgunakan kepercayaan dari appanya ini?

 

Soohyun kaget melihat tingkah aneh putrinya ini. Sepertinya ada yang salah, ia membalas pelukan erat hyesoo.

 

“kau kenapa sayang?” dielusnya rambut tebal hyesoo.

 

Hyesoo tidak menjawab pertanyaan soohyun. Ia tak mungkin berkata yang sebenarnya pada soohyun. Tidak, hyesoo belum siap dilempar ke jalanan karna telah mengakui peristiwa memalukan itu. Hyesoo berfikir ditengah isakannya.

 

“apa aku boleh bertanya sesuatu?” tiba-tiba hyesoo angkat bicara.

 

“apa yang ingin kau tanyakan?” soohyun merenggangkan pelukannya. Menatap wajah putrinya.

 

“dimana umma berada ? Kenapa selama 16th ini kami tak pernah tau siapa, dan dimana umma kami?” akhirnya hyesoo membahas hal lain. Soohyun kaget mendengar pertanyaan putrinya tersebut. Hatinya bagai tercabik ketika luka masalalu terusik.

 

Ya, soohyun memang tak pernah menceritakan apapun tentang siapa ibu dari anak-anaknya selama 16th. Dia bahkan tak memperlihatkan bagaimana wajah ibu mereka walaupun hanya melalui foto. Soohyun bingung harus bagaimana mengatakan hal ini pada anaknya, mereka bukan anak kecil yang dapat ia bohongi sekarang.

 

“kenapa tiba-tiba kau bertanya seperti itu, sayang?” soohyun memegangi kedua lengan putrinya, menatapnya intens. Sorot mata hyesoo seolah mendesak soohyun agar segera menjawab pertanyaannya.

 

“ummamu sudah meninggal sayang,” jawab soohyun lesu.

 

“dimana makamnya?”

 

“ada di california~ appa tak punya cukup uang untuk mengajak kalian kesana.” jelas soohyun.

 

Hyesoo semakin merasa bersalah, ia salah mengalihkan bahan pembicaraan. Ia merasa telah menyakiti perasaan appanya dengan pertanyaannya tersebut. Harusnya ia sadar, appanya sudah bekerja keras sendirian untuk menghidupinya dengan dongho selama 16th, itu jelas bukan hal mudah bagi seorang lelaki. Mata hyesoo kembali berkaca-kaca, ia langsung memeluk erat soohyun lagi.

 

“jeongmal mianhae appa~” soohyun ingin menangis saat ini, ia tak tau lagi apa yang akan ia lakukan, namun soohyun berusaha menahannya. Ini hanya akan membuat anaknya khawatir.

 

“harusnya aku tak pernah menanyakan semua itu. Bagiku kau lebih dari segalanya, appa~.”

 

 

 

Di sekolah hyesoo hanya diam saja. Hari ini dia memilih berdiam diri. Bayangan akan peristiwa itu selalu menhampiri fikirannya. Rasanya memang tak mudah bagi anak seumurannya menerima semua itu. Byangkan saja jika itu terjadi padamau. Kau harus merasakan hal yang harusnya kau rasakan saat dewasa nanti. Secara kejiwaan itu memang belum pantas di terima hyesoo.

“hyesoo~ kajja kita pulang..” ajak yongra pada hyesoo yang masih melamun di kelas.

 

 

Kedua sahabatnya yang lain juga ada di samping hyesoo berdiri menungguinya bicara. Entah mereka semua seperti tak terlihat oleh hyesoo , berbagai pertanyaan muncul, namun tak satu pertanyaanpun di jawab oleh hyesoo. Akhirnya hyesoo mau berdiri dan mereka semua pulang bersama dalam keadaan hening. Yongra dan jungrae berpamitan karna mereka masih harus mengikuti ekskul. Hanya tinggal hyokyo dan hyesoo. Di gerbang sekolah, mereka berhenti sejenak.

“hyesoo~ ada apa denganmu kali ini? Kenapa kau diam saja? Ceritakan padaku jika kau punya masalah..” pinta hyokyo.

 

Hyesoo hanya mengumbar senyum di bibirnya, mulutnya enggan menjawab.

 

“hyesoo~” tiba-tiba ada suara yang mendekat terdengar memanggil hyesoo.

Hyesoo menoleh mencari asal suara tersebut. Didapatinya kiseop berlari kecil kearahnya. Bukannya menanggapi ,hyesoo malah lari menjauhi kiseop. Hyokyo bingung, ternyata hyesoo juga mendiamkan kiseop. Dia berfikir bahwa masalah kediaman hyesoo hari ini ada sangkut pautnya dengan kiseop.

 

“chakkaman hyesoo~ ” teriak kiseop mempercepat larinya.

 

SREEEG―

 

Tiba-tiba saja hyesoo merasa ada yang menahan tubuhnya.

 

“aku ingin menjelaskan semua padamu hyesoo, sayang. Kumohon dengarkan aku.” ternyata tangan kiseop sudah melingkar di tubuh mungil hyesoo, memeluknya dari belakang.

 

Beberapa pasang mata tengah menatapi mereka berdua, namun baik hyesoo maupun kiseop diam saja.

 

Bulir-bulir kristal hangat menjalar dipipi hyesoo, hatinya masih teramat sakit. Jiwanya masih mengalami ketakutan yang membuatnya tak tenang. Disatu sisi ia sangat benci pada kiseop, disisi lainnya ia ingin mengetahui bagaimana semua itu bisa terjadi.

 

“ijinkan aku membuktikannya sekali saja, bahwa ini bukan sepenuhnya salahku. Dengarkan aku hyesoo..” pinta kiseop dengan parau.

 

Pergulatan di hati hyesoo perlahan dapat terminimalisir. Hatinya luluh dan memberikan 1 kesempatan pada kiseop untuk membuktikan pernyataannya. Mereka berdua pergi menuju rumah kiseop, tempat semua petaka dimulai.

 

Kiseop menuntun hyesoo menuju dapur, tempat awal ditemukannya masalah.

 

“kau lihat ini, ini adalah memo yang kita lupakan..” titah kiseop dengan antusias menunjukkan sebuah memo yang tertempel di pintu kulkas.

 

Hyesoo membaca isi catatan kecil tersebut dengan saksama. Berikut isi memo tersebut :

 

“kiseop sayang~ kau jangan coba-coba meminum jus jeruk botolan dikulkas ! Itu milik appamu, kau belum boleh meminumnya. Hati-hati soju yang ada didalam kadar alkoholnya tinggi, jangan minum terlalu banyak ! Jangan sembarang menyimpan makanan di kulkas. Itu bisa membuat bau. Jaga dirimu baik-baik.”

 

Begitulah isi memo yang sepertinya ditulis oleh umma kiseop. Ya kedua orang tua kiseop memang tengah tidak di korea.

 

Kepercayaan hyesoo perlahan mulai kembali, ditatapnya kiseop dengan penuh harap. Kiseop membalas tatapan itu dengan segurat senyum. Kemudia ia merogoh sesuatu dari saku celananya.

 

“i will marry you !” ucap kiseop lembut sambil menunjukkan 2 buah cincin dari genggaman tangannya yang baru dibuka.

 

Hyesoo membungkam mulutnya karna tak percaya dengan apa yang dilihatnya. 2 buah cincin emas putih di tangan kiseop.

 

“aku ingin menjadi orang pertama dan terakhir yang menjamahmu~ aku harap kau juga begitu padaku hyesoo..” ujar kiseop seraya mengambil tangan kiri hyesoo.

 

Hyesoo menelan ludah karna gugup. Bagaimana kiseop bisa memberinya cincin secepat itu?

 

Hyesoo membiarkan tangannya dijamah kiseop untuk disematkan sebuah cincin.

 

“are you really?” hyesoo mencoba meyakinkan.

 

“terserah apa presepsimu.. Tampar pipimu jika kau tak percaya kenyataan ini.. Kkk~” ejek kiseop.

 

Hyesoo memegangi cincin yang sudah melingkar di tangannya, menatapnya seolah ini hanya mimpi. Namun kenyataannya hal ini memang terjadi. Ia langsung mendekap tubuh kiseop, erat. Sangat erat, untuk memastikan ia tak bermimpi.

 

“katakan ini bukan mimpi kis,” gumamnya pelan didalam dekapan tubuh kiseop yang sudah membalas pelukannya.

 

“kau tidak bermimpi hyesoo~ aku mencintaimu.” ucap kiseop sambil tersenyum dan membenamkan kepala hyesoo lebih dalam.

 

–fin–

 

Dipublikasi di Uncategorized | Tag , | 1 Komentar

.this is for uri @kevinwoo91 ,i write this message in white … on Twitpic


.this is for uri @kevinwoo91 ,i write this message in white … on Twitpic.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

{SCANS} 111113 Inkigayo Magazine. November Issue


credits: 러블리S@greatfortuity.net + ROCKETBOXX.NET

FULL CREDITS WHEN REPOSTING!
DON’T HOTLINK AND DON’T SPAM!

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Take Me Away / Be My Girl | U-KISS Fict


  Lee kiseopdongo

Title : Take Me Away

Sub-title : Be My Girl

Author : @piiapiiapiio

Cast :

Shin hyesoo as dongho’s sisters

Shin dongho as hyesoo’s sisters

Shin soohyun as hyesoo and dongho’s father.

Lee eusebio as soohyun’s friend.

Lee kiseop as eusebio’s son.

And other cast.

 

 

hihi, sekarang yang 2nd story ^^ . ini lagi-lagi agak ga bener, entahlah.. rasanya aneh. Mian aku ngetagnya asal. Kalo ga suka bias minta remove tag J .. happy reading yuuhuu 😀 ..ahh,

 

“jangan pergi terlalu jauh sayang~” nasehat nyonya Lee pada anak semata wayangnya, kiseop.

 

Ketika itu keluarga Lee eusebio dan Shin soohyun tengah berpiknik bersama. Ini semua atas permintaan istri eusebio atau yang lebih sering di panggil alexander. Kiseop, dongho dan hyesoo pergi untuk berjalan-jalan bersama. Di tempat piknik, tinggal-lah orangtua mereka.

 

“soohyun-ssi, tidakkah sebaiknya kita mengikat tali persahabatan kita dengan menikahkan anak-anak kita itu lebih baik?” istri alexander mengutarakan niatnya menjodohkan anak mereka.

 

Soohyun terdiam sejenak, memikirkan putri tunggal yang ia miliki. “bukankah itu terlalu cepat? Anakku masih terlalu kecil.”

 

Xander mengembuskan nafas panjang. “sudahlah minki jangan memaksakan kehendakmu~” tegurnya pada sang istri.

 

“tapi bukankan masa depan mereka lebih terjamin?” kukuh minki.

 

“istrimu tidak salah, xander. Dia benar ! Aku bisa mengerti maksudnya.. Biarkan saja waktu yang akan menjawab semuanya.” soohyun menengahi perselisihan.

 

“baiklah~ biarkan mereka mencari jalannya masing-masing.. Mereka sudah punya cukup umur untuk menentukan semuanya.” sahut xander.

 

Sementara itu, ketiga anak mereka tengah asyik menikmati aroma musim semi. Kiseop dan dongho berlarian mendekati danau, sementara hyesoo berlari kecil karna tak dapat mengejar mereka berdua.

 

“jangan seenaknya karna kalian namja lalu membiarkanku tertinggal sendirian !” hyesoo meneriaki 2 namja yang berlari meninggalkannya.

 

“kejar kami kalau kau memang pantas dibanggakan , haha” cibir dongho.

 

“baiklah~” geram hyesoo semaikin kesal. Ia mempercepat laju kakinya agar dapat mengejar 2 orang menyebalkan itu.

 

Karna diburu amarah , tanpa sadar kaki hyesoo tersandung batu hingga tersungkur.

 

“auch~” kiseop dan dongho yang mendengar rintihan itu segera berhenti dan melihat kebelakang.

 

“kau berekting kan?” ledek dongho yang melihat kembarannya tengah terduduk sambil meniup lutut kirinya.

 

Merasa terhina hyesoo menatap tajam dongho, “sepicik itukah?”

 

“tapi kau memang suka menipu kan?”

 

Hyesoo semakin kesal pada dongho, karna sudah tak tahan dengan luka di lututnya ia beranjak mengacuhkan 2 pria yang membuat moodnya hilang. Hyesoo sedikit terseok, dia tidak dapat menjaga keseimbangan tubuhnya dan itu membuatnya tersungkur lagi. Melihatnya, kiseop segera berlari menghampirinya.

 

“hyung .. Apa kau percaya padanya?” teriak dongho tetap pada posisinya.

 

Kiseop tak menjawab, tanpa permisi dia langsung menggendong hyesoo dengan bridal style. Hyesoo yang merasa tubuhnya terangkat dari tanah dan segera mengedarkan matanya pada sosok yang sudah lancang mengangkat tubuhnya itu.

 

“jangan melihatku seperti itu. ” gumam kiseop yang merasa dirinya dipandangi oleh hyesoo.

 

Lain dengan dongho yang tak perduli. Ia memilih melanjutkan perjalanannya ke danau.

 

Kiseop menurunkan hyesoo di dekat sebuah toko kecil, ia meninggalkan hyesoo di depan tempat itu sendirian untuk membeli sesuatu yang dibutuhkan. Tak sampai 5 menit, kiseop sudah keluar membawa antiseptic dengan kapas dan verband.

 

“ulurkan kakimu !” hyesoo yang melihat kedatangan kiseop langsung mengikuti seruannya.

 

Kiseop berjongkok di kiri hyesoo, ia membuka penutup antiseptic kan meneteskannya pada luka hyesoo. Karna itu hyesoo diam dan terus memandangi kiseop yang tengah merawatnya.

 

Rasa bencinya sedikit berkurang, karna hal itu. Didada hyesoo mulai sedikit bergejolak, ada rasa kagum dan senang atas perbuatan kiseop. Kini hyesoo benar benar terbuai dan melamun menatap kiseop sambil senyum-senyum ga jelas.

 

“sudah !” seru kiseop, membuyarkan lamunan hyesoo.

 

‘ahh~ kenapa orang ini begitu mempesona Tuhan? Kenapa aku baru sadar semua itu? u,u’ hyesoo merutuki hatinya sendiri.

 

“kau jalan sendiri atau ku gendong?” tawar kiseop.

 

Hyesoo bingung, jika ia menjawab ‘iya’ maka itu akan merepotkan orang ini. Jika tidak maka sama saja ia membuang kesempatan emas, lagi pula kakinya masih terasa nyeri.

 

“baiklah, tapi bagaimana kalau dilihat orang?” hyesoo mencoba membual, padahal hatinya sangat meng’iya’kan hal itu.

 

“mereka punya mata, dan itu hak mereka untuk melihat atau tidak. Dan itu juga hak mu, mau di gendong atau tidak. Setiap pilihan pasti ada resiko.” hyesoo hanya mengangguk pasrah, ia tak ingin mendapat ceramah lebih banyak lagi dari pria ini.

 

“yeoboseo~ hyesoo-ah” sapa kiseop setelah telfonnya tersambung pada tujuan.

 

“bisakah kita pergi berdua malam ini?” tanya kiseop antusiar.

 

“ah~ baiklah jika kau ingin mengajak dongho juga, kurasa bukan masalah.” kiseop sedikit menyesal mendengar usulan hyesoo yang menginginkan dongho ikut juga.

 

“nanti jam 7 aku akan menjemput kalian.”

 

Beberapa detik kemudian telfon dimatikan oleh kiseop.

 

“apa boleh buat ? Susah memang menginginkan seseorang yang kembar.” rutuk kiseop sambil menghempaskan ponselnya ke kasur sebelum pergi.

 

 

Jam sudah menunjukkan pukul 18.45 , kiseop sudah bersiap menjemput “shin twinies” si kembar.

 

“perfect !” seru kiseop penuh percaya diri menatap pantulan wajahnya di cermin.

 

Celana jeans yang ia padukan dengan kaos merah ditambah blazer warna hitam menampakkan sinar kulit putihnya. Sebelum keluar dari kamar ia menerkam kaca mata warna hitam dan menyelipkan di kedua telinganya.

 

Sekitar 20 menit kemudian ia sampai di rumah si kembar, ternyata hyesoo sudah menunggunya di teras sendirian.

 

Kiseop keluar dari mobilnya dan berlari kecil mendekati hyesoo yang juga berjalan ke arahnya.

 

“dimana kembaranmu?” hyesoo sedikit menyesal mendengar pertanyaan itu.

 

“dia sedang berkencan dengan gadis idamannya~” jawab hyesoo kesal.

 

‘yes ! Akhirnya aku bisa berdua .. Hihi’ batin kiseop.

 

“sudah cepat, nanti keburu larut malam.” kiseop menyeret hyesoo masuk mobilnya dan didudukannya di kursi penumpang yang ada di depan.

 

Kiseop menghentikan mobilnya ke sebuah tempat berbelanja yang ada di pinggir jalan.

 

“sudah sampai !” hyesoo membuka pintu setelah kiseop menunjukkan tempat ini.

 

“kenapa disini?” tanya hyesoo bingung melihat kiseop membawanya ke tempat ini.

 

Kiseop hanya tersenyum menatap hyesoo yang kebingungan.

 

“aku ingin jalan-jalan ditengah keramaian kota~”

 

Kiseop menghampiri hyesoo dan menuntunnya berjalan berdua di trotoar.

 

‘bukankah tak ada yang istimewa? Keadannya setiap malam kan memang begini, apa dia tidak pernah ketempat seperti ini? Ah sudahlah, tapi ini juga tak buruk ’ gerutu hati hyesoo.

 

Mereka berdua berdampingan menyusuri pusat perbelanjaan di pinggir jalan sambil menengoki beberapa stand yang berjualan.

 

“kau mau ini?” kiseop menawari hyesoo sebuah kalung yang terbuat dari batu warna warni yang dikaitkan dengan kawat kecil.

 

“ah tidak usah, kurasa itu terlalu girly~” hyesoo memberi pendapatnya.

 

Kiseop menatap hyesoo dari atas hingga kebawah, ia baru mendadari penampilan hyesoo. Dress selutut model kemben warna putih dan cardigan warna hitam.

 

“kenapa kau memakai sepatu cats?” heran kiseop yang mendapati hyesoo memakai sepatu cats warna blue sky.

 

“kau tak akan pernah melihatku memaki high heels, itu sama saja membunuhku perlahan.” tukas hyesoo merasa tidak salah.

 

“setidaknya kau bisa memakai flatshoes , itu tak akan membuat kakimu sakit !” kiseop menyarankan.

 

Tanpa meminta persetujuan hyesoo, kiseop langsung menariknya menuju stand yang menjual sepatu. Letaknya tak begitu jauh dari tempat mereka berdebat tadi.

 

“ahjumma~ ini harganya berapa?” kiseop menyaut sebuah sepatu wanita tak ber hak, atau flatshoes.

 

“hanya 20.000 won saja.. Kau ambil?”

 

“ne ahjumma~ aku ambil yang ini .” kiseop mengangkat sepatu tanpa hak yang berwarna merah.

 

“cepat, lepas sepatumu dan pakai ini,” hyesoo menuruti perintah kiseop. Melepaskan sepatunya dan mengganti dengan flatshoes warna merah menyala.

 

“kalau begitu kan lebih macth dengan pakaianmu~” puji kiseop.

 

Sudah sekitar 1 jam mereka berkeliling, itu membuat cacing di perut hyesoo pada demo minta suplay. *ngelantur dikit gapapa kan –a *

 

“ahjussi~ mari kita pulang, aku sudah sangat lapar.” rengek hyesoo sambil memelas.

 

“panggil aku oppa dulu, baru kita makan. Seenaknya saja memanggilku ahjussi. Aku belum tua !” ancam kiseop sambil melipat tangan didepan dadanya.

 

“cih, kau ini rempong sekali.” hyesoo mencubit lengan kiseop gemas.

 

“yasudah kalau tidak mau, jangan harap kita akan pulang.” ancaman kedua kiseop muncul.

 

“baiklah, aku menyerah. Oppa~ ayo kita makan. Aku lapar.” rengek hyesoo dengan manja sambil menyelipkan tangannya pada lengan kiseop.

 

“nah itu, baik tuan putri. Restoran terlezat akan segera kita datangi..”

 

Mereka berdua pergi kesebuah restoran china bintang 5. Acara kencan pertama malam ini mereka akhiri dengan dinner. Mengingat malam sudah semakin larut. Walaupun sebenarnya kiseop tak ingin semua ini cepat berakhir. Kencan pertamanya yang lumayan sukses, karna mereka hanya berdua saja sampai malam ini.

*mian, agak geje .. Soalnya ga mungkin kan langsung pacaran, kesannya kecepetan nanti :O *

#bow.

Hari-hari hyesoo kini penuh dengan bayangan kiseop, karna kiseop lah yang berani menyentuh tangannya. Ia merasa ada perasaan lebih ketika ia harus beradu mulut dengan kiseop. Apalagi kiseop selalu menjemputnya setiap hari. Semua mengira bahwa mereka berdua sudah berpacaran, sahabat hyesoo akan mendukung sekali jika dia mempunyai pacar seperti kiseop. Pasalnya selama 17tahun hidup hyesoo ia tak pernah tersentuh cinta, memprihatinkan memang.

 

“apa kau masih lama dongho?” hyesoo merapikan buku pelajarannya.

 

“pulanglah duluan, aku masih harus latian baseball. ” dongho meninggalkan hyesoo dikelas untuk segera berganti baju karna latihan akan segera dimulai.

 

Hyesoo memanyunkan bibirnya pasrah, karna harus pulang sendiri. Memasangkan tas ransel dan pergi meninggalkan kelas.

 

“hyesoo~” panggil beberapa siswi bersamaan ketika sampai di gerbang.

 

Hyesoo mencari sumber suara tersebut. Ternyata ke 3 sahabatnya, “ada apa?” tanya hyesoo, mendekat kearah mereka.

 

“ayo kita jalan-jalan, rasanya kita sudah lama tidak pergi bersama.”

 

“benar kata hyokyo.” timpal kedua sahabat yang lain.

 

Hyesoo melirik jam yang bertengger di tangan kirinya. “baiklah~ kajja.”

 

Mereka berempat berjalan kaki bersama, namun belum sampai beberapa langkah ada mobil berhenti di depan mereka. Pemiliknya menurunkan kaca jendela, nampaklah kiseop.

 

“chakkaman !” Hyesoo dan ketiga sahabatnya menoleh seketika.

 

“kiseop oppa~” sorak ketiga sahabat hyesoo.

 

Hyesoo hanya menoleh, tanpa berkata apapun.

 

“kalian mau kemana?” kiseop menebar senyum manisnya.

 

“mau beli es krim, mau ikut?” tawar si gemuk.

 

“ayolah oppa~ hyesoo yang akan mentraktirmu.” rajuk si kurus.

 

Sontak mendengar hal itu hyesoo memelototi para sahabatnya 1 per 1. ‘apa apaan ini?’

 

Sementara mendengar hal itu kiseop malah tertawa senang. Merasa dirinya jadi idola dikalangan anak SMA.

 

“baiklah~ biar aku yang traktir kalian. Kajja~ kita naik mobilku saja.” kiseop menawarkan tumpangan.

 

Mereka berebut masuk ke kursi penumpang yang di belakang.

 

Malang tak dapat di tolak, hyesoo tidak dapat tempat di belakang. Terpaksa ia harus duduk di samping kiseop. Sedikit kecewa memang, tapi setidaknya ia dapat melihat kiseop lebih dekat.

 

“fuih~” hyesoo menghembuskan nafas. Menahan diri dari kekesalan.

 

Sekitar 5 menit kemudian kiseop memarkir mobilnya di depan kedai es krim yang di maksud teman-teman hyesoo. Letaknya tidak terlalu jauh dari sekolahnya, selain itu tempat ini tidak terlalu ramai.

 

Mereka memilih untuk duduk di bagian luar, karna dapat menikmati langit senja secara langsung. Beberapa orang terlihat berlalu lalang di trotoar depan kedai ini.

 

Datanglah seorang waiters menghampiri mereka berlima.

 

“ada yang anda pesan?”

 

“vanilla chocochip + blueberry.” sahut yongra.

 

“chocolate + cappucino.” giliran hyokyo.

 

“aku banana + strawberry saja” jawab jungrae.

 

“kau apa?” kiseop menoleh pada hyesoo.

 

“cappucino + crinkle strawberry jumbo~”

 

“aku pesan vanilla + greentea saja” pelayan itu mengangguk setelah mendengar jawaban kiseop.

 

Waiters itu pergi membuatkan pesanan mereka. Sedikit agak lama memang, mereka menyibukkan diri dengan ponsel masing-masing. Kecuali kiseop, ia hanya mengedarkan matanya menatapi anak-anak didepannya ini satu per satu. Tampak tersenyum sendiri menatapi layar ponsel. Pandangannya terhenti pada hyesoo, nampaknya hanya dia yang kesal.

 

“sepertinya aku ingin ke toilet sebentar~” ijin hyesoo meninggalkan teman-temannya di sana menuju toilet.

 

Kiseop hanya mengangkat sedikit bahunya. Melihat punggung hyesoo yang sudah semakin menjauh.

 

“wah gawat, kenapa TL ku ga jalan nih? Apa pulsanya habis?” gerutu hyesoo yang sedang twitteran sambil berjalan menuju toilet.

 

“bruk”

 

Hyesoo menabrak seseorang yang melintas karna dia tidak melihat jalan. Sejenak pandangan mereka bertemu sebelum akhirnya orang itu pergi. Tampan, berambut coklat muda. Namun hyesoo kembali memandangi layar ponselnya sampai di toilet.

 

 

“sepertinya aku pernah melihat orang itu? Tapi siapa ya? ” hyesoo menanyai dirinya sendiri.

 

 

 

“aku .. a.. aku ingin mengatakan sesuatu padamu hyesoo. Tapi kau jangan marah atau membenciku ya..” hyesoo mengalihkan padangannya kepada kiseop yang berbicara sedikit gugup padanya.

 

Kiseop mengerti tatapan hyesoo yang sepertinya bertanya ‘apa?’ . “aku , men..” kiseop menjeda kalimat yang akan di ucapkannya. Ia salah tingkah sendiri. Menggaruk kepalanya yang tak gatal, menggosok-gosokan kedua telapak tanggannya, – padahal suasana sedang tidak dingin.

 

“apa ? Aku janji tidak akan marah padamu.. Cepat katakan.” hyesoo memandang intens mata kiseop.

 

Kiseop malah makin salah tingkah, namun akhirnya ia berani bertatapan dengan hyesoo.

 

Kiseop mendekatkan kepalanya ke telinga hyesoo. Hyesoo kini dapat mendengar hembusan nafas kiseop di telinganya.

 

“saranghae~” ucap kiseop pelan, ia belum merubah posisinya.

 

Beberapa saat terasa hening, keduanya saling diam. Kiseop mencoba menetralkan hatinya yang serasa mau melompat. Disisi lain hyesoo hanya diam.

 

“aku benci padamu~” ucap hyesoo datar. Kiseop bagai tertimpa batu yang besar mendengarnya. Namun ia tak menampakkan kekecewaannya.

 

“tapi kan kau tadi sudah janji tidak akan marah.” kiseop memelas menatap hyesoo dengan tatapan ‘come on baby, terimalah aku’

 

“mian~ aku sangat benci. Benci sekali jika kau tak memintaku jadi pacarmu..”

 

Kiseop mencoba mencerna pelan-pelan kalimat yang baru saja di dengarnya. Dia merasa baru di permainkan anak kecil. Ia menarik tubuh hyesoo lebih dekat.

 

“kau mau?” ia menatap lekat mata hyesoo.

 

“menurutmu?” hyesoo menyeringai.

 

“sekarang jangan coba-coba permainkanku anak kecil !” kiseop meraih hyesoo kedalam pelukannya. Mengusap kepala gadis itu dengan penuh bahagia.

 

Hyesoo merasakan detak jantung kiseop yang kencang, ia tersenyum. Akhirnya ia bisa bersama orang yang ‘nangkring’ difikirannya selama beberapa bulan ini. Ya setidaknya kiseop cukup sempurna sebagai lelaki yang disebut ‘pacar’ , tak ada yang perlu di khawatirkan. Karna kedua orang tua mereka pun sudah sama sama setuju.

 

Sekian dan terimakasih

hihi mohon kritikya lagi ya 😛

ini lebih sedikit kok dari pada yang tadi :O

sampai ketemu di cerita selanjutnya !!

Dipublikasi di Uncategorized | Tag , | Meninggalkan komentar