Take Me Away / April Story (nc-17) | U- KISS Fict


Title : Take Me Away

Sub-title : April Story (nc-17)

Author : @RM_piiapiio

Cast :

Shin hyesoo as dongho’s sisters

Shin dongho as hyesoo’s sisters

Shin soohyun as hyesoo and

dongho’s father.

Lee eusebio as soohyun’s friend.

Lee kiseop as eusebio’s son.

And other cast.

“kau adik kembar Shin Dongho?” tiba-tiba seorang siswi menepuk bahu hyesoo ketika ia berjalan di koridor sekolah.

 

Hyesoo menoleh dan menghentikan langkahnya. “ne~ ,wae?”

 

“kenalkan , aku suzy. Kau Shin hyesoo?” siswi bernama suzy itu menyebut nama lengkap hyesoo.

 

Hyesoo mengangguk dan menatap siswi itu penuh tanya, ‘ada apa?’

 

Suzy mengulas senyum seraya memberikan sebuah buku catatan pada hyesoo. “tolong berikan ini pada dongho, kudengar dia tidak masuk hari ini.”

 

Hyesoo menerima buku itu. Ia membalas dengan sebuah senyuman. “jadi kau gadis yang dikencani dongho?”

 

Suzy membelalakkan mata. “darimana kau tau? Apa dia sering bercerita tentangku?”

 

“ah ani~ dia tidak cerita terlalu banyak padaku. Walau kami kembar, tapi kami suka merahasiakan sesuatu. Dia hanya bilang kau adalah wanita yang ingin dikencaninya, sepertinya dia menyukaimu. Aku hanya melihat dari gaya bicaranya yang antusias ketika bercerita tentangmu.” jelas hyesoo.

 

“geurae?” tanya suzy ingin tau.

 

“ne~ aku ingin pergi kekelas. Apa masih ada perlu lagi?”

 

“ani~ gomapta atas bantuanmu..” suzy membungkukan badannya sejenak.

 

 

 

Sore yang dingin karna baru saja hujan turun membasahi daerah seoul. Seorang namja meringkuk dibalik selimut tebal tengah terbaring. Matanya terpejam namun jiwanya masih sadar. Dia tidak tidur, hanya berbaring.

 

“dong~ dong~ aku punya sesuatu untukmu !” seseorang masuk kamar tersebut dan langsung menerjang tubuh di balik selimut tebal.

 

“awww~ apa kau tak bisa pelan? Kau sudah menindihku !” protes anak dibalik selimut yang tidak lain adalah dongho.

 

“aku punya sesuatu. Tapi kau harus janji akan membantuku ya~” tawar hyesoo yang menyembunyikan sesuatu dibalik tubuhnya.

 

Dongho membuka selimutnya dengan malas, “ne~ apa yang kau punya untukku?”

 

“kujamin demammu akan turun seketika jika kau lihat yang aku bawa. Tapi kau harus membuatkanku puisi untuk tugas bahasa ,eoh?”

 

“cepat berikan barangnya~” hyesoo menyerahkan buku catatan yang dititipkan suzy kemarin.

 

“apa ini? Tak ada yang menarik? Kau menipuku, hah?” dongho membolak-balik catatan tersebut.

 

“jangan protes melulu ! Masa depan cintamu ada disitu, bodoh ! Jangan lihat luarnya, tapi isinya.” hyesoo beranjak meninggalkan dongho.

 

Dongho yang penasaran akhirnya membuka dan membaca buku catatan tersebut. Matanya langsung berbinar ketika mendapati nama pemilik buku itu adalah Suzy, – gadis pujaan hatinya. Dengan cermat ia membaca huruf-huruf yang tertulis rapi di dalamnya. Jantungnya seakan dipompa ketika ia menemukan namanya tertulis dalam kalimat yang berisi : “Dongho, bayanganmu selalu menghantui hatiku ketika pertama kita bertemu, kau memberiku kursi di bus.”

 

Senyuman demi senyuman tak sungkan nangkring di bibir merah dongho. Ia semakin senang karna mendapati banyak namanya tertulis di buku catatan itu. Ia yakin suzy juga telah mencintainya. Dongho memang sudah menyatakan cintanya pada suzy beberapa hari yang lalu. Dia segera mengambil ponsel yang ada di sampingnya. Menekan beberapa digit nomer lalu menghubunginya.

 

“yeoboseo~” sahut suara di seberang.

 

“yeoboseo~ suzy-ah .. Aaapaa…” dongho jadi sedikit nervous.

 

“apa maksudmu dongho-ssi?”

 

“a.. apaa benar kau menitipkan buku pada adikku?”

 

“ne~ dia sudah memberikannya padamu?” ucap suzy dengan nada girang.

 

“ne~ jadi kau mau jadi kekasihku?” tanya dongho grogi.

 

“menurutmu?”

 

“dari tulisanmu sepertinya begitu.” dongho sedikit kecewa mendengar pertanyaan suzy yang sedikit mengejek.

 

“hehe~ kau marah?” tanya suzy.

 

 

Pria bertubuh tinggi dan tegap tengah bersandar di mobil sport warna putih. Sesekali ia mengintip jam tangan yang bertengger manis di lengannya.

 

“kenapa dia lama sekali?” gumamnya yang melihat beberapa anak keluar berhamburan dari sebuah gerbang sekolah. Ia mengedarkan penglihatannya mencari sosok yang sedari tadi ia tunggu.

 

“sudah lama?” tegur seorang yang menghampirinya.

 

“mmm..tidak juga hyesoo. Kajja~”

 

Mereka berdua memasuki mobil.

 

“kis~ aku lapar.” rengek hyesoo.

 

Kiseop masih fokus pada jalanan, “kau ingin makan apa?”

 

“ramyeon !” hyesoo menjawab dengan antusiasnya.

 

 

Sampailah kini mereka disebuah restoran yang menjual ramyeon.

 

“silahkan dinikmati~” waiters meletakkan pesanan hyesoo dan kiseop.

 

Hyesoo segara membuka pembungkus sumpit dan melahap semangkuk ramyeon yang tersaji dihadapannya.

 

“sepertinya kau lapar sekali..” kiseop tersenyum melihat pacarnya yang makan dengan lahap.

 

“iya~ hari ini aku ulangan harian 3x. Itu membuatku gila.” ujar hyesoo dengan mulut disesaki ramyeon. “kau tidak lapar?”

 

“melihatmu makan aku sudah cukup kenyang. Habiskan makananmu.” kiseop tersenyum.

 

Hyesoo tanpa malu-malu melahapnya.

“kita mau kemana sekarang hyesoo?” tanya kiseop saat mereka didalam mobil setelah makan.

 

“aku ingin ke mall, bisakah kita kesana?”

 

“as your wish”

 

Mobil kiseop berjalan menuju pusat perbelanjaan terdekat dari tempat mereka makan barusan. Tak sampai 15 menit mereka sudah berada di mall. Hyesoo ingin membeli sesuatu untuk appanya, rasanya ia sudah lama tidak memberi hadiah pada malaikat pelindungnya itu.

 

“kau ikut masuk atau tunggu disini?” tanya hyesoo.

 

“aku ikut saja. Aku tak mau disini sendiri.” kiseop melepaskan seatbeltnya.

 

Mereka berdua keluar dari mobil serta berjalan bergandengan tangan menuju pintu masuk.

 

“kau ingin beli apa?” tanya kiseop ketika mereka memasuk pintu utama.

 

“entah~ aku masih bingung membelikan apa yang pas untuk appaku.. Kau punya usul?” hyesoo balik bertanya.

 

Mereka berdua masih berjalan menuju eskalator untuk naik ke lantai 2.

 

“mungkin kau bisa membelikannya sebuah pakaian,” saran kiseop, masih menggandeng tangan hyesoo.

 

“geurae~ kajja kita cari stand yang tepat.”

 

Setelah berputar, akhirnya mereka sampai disebuah butik khusus pria. Hyesoo mendorong pintu kaca, ia pun masuk bersama kiseop.

 

“kau pilih sendiri dulu bajunya, jika kau tak tau ukurannya nanti tanyakan padaku. Pilih saja dulu mana yang tepat. Aku ingin membeli baju juga,”

 

Hyesoo mengangguk dan melepas tangan kiseop, membiarkannya pergi mencari baju untuk dirinya sendiri. Hyesoo pun melangkahkan kakinya menuju barisan kemeja. Mata dan tangannya dengan seksama memilah milah baju yang tergantung rapi. Pandangannya terpikat pada sebuah kemeja berbahan satin warna biru muda. Tangannya pun menarik baju itu, namun ada yang janggal. Kenapa bajunya sulit di ambil? Hyesoo mengangkat kepalanya sambil menggerutu.

 

“cih, kenapa sulit sekali diambil !” hyesoo memperkuat tarikannya. Namun tidak kena.

 

Sepasang mata menatap hyesoo, “aku yang lebih dulu menemukannya agasshi !” ujar orang yang ternyata juga menarik baju itu dari arah berlawanan.

 

“andwae ! Aku yang lebih dulu !” seru hyesoo mengedarkan pandangan mencari sosok yang mengganggunya.

 

“tapi aku sudah melihatnya dari tadi, dan sekarang aku ingin mengambilnya..” ujar pria berambut pirang yang memakai kemeja warna hitam dihadapan hyesoo ini.

 

“tapi aku butuh kemeja ini~ dan aku juga mengambilnya duluan. Kan kau belum membayarnya, jadi dia masih bebas.” hyesoo ngotot dengan pendapatnya.

 

“ambil saja, aku tak ingin berdebat lagi.” lelaki rambut pirang itu akhirnya mengalah dan pergi meninggalkan hyesoo.

 

Namun perasaan hyesoo terusik, sepertinya dia pernah melihat pria yang baru berebut dengannya. Akhirnya sebuah ingatan terputar di otak hyesoo.

 

“kedai ice cream dekat sekolah?” tanya hyesoo pada dirinya sendiri. Sepertinya itu lelaki yang bertabrakan dengannya di kedai ice cream sebulan yang lalu.

 

Hyesoo pun terbawa lamunan akan kejadian sebulan yang lalu. Ia terus mengingat-ingat kejadian itu. Sampai tak sadar ada orang yang memanggilnya.

 

“hey, bodoh !” teriak suara itu makin keras, hyesoo akhirnya tersadar. Ia menoleh mencari suara itu.

 

“apa maksudmu memanggilku bodoh, hah?” maki hyesoo pada orang itu. Namun ia langsung meredakan amarahnya begitu melihat seorang gadis di samping kakaknya.

 

“suzy? Untuk apa kalian kemari?” tanya hyesoo begitu ingat sosok itu.

 

Suzy mengulas senyum manis.

 

“kau sendiri perlu apa? Hah?” sela dongho.

 

“beli baju~ untuk appa.” hyesoo menjawab dengan polos.

 

“kau tau ini tempat belanja. Mana mungkin kami kemari mau menanam sayur? Kenapa kau sekarang jadi bodoh?” cela dongho.

 

Suzy dan dongho tertawa, hyesoo hanya mendengus kesal.

 

“ternyata kau disini juga, dongho?” tiba-tiba kiseop menghampiri mereka.

 

 

“kenapa kis? Kenapa ada kue tart disini? Siapa yang berulang tahun?” hyesoo memburu kiseop dengan banyak pertanyaan karena melihat sebuah kue tart yang cantik tersaji di meja makan.

 

Kiseop menatap nanar hyesoo, “neo? Kau tak ingat hari apa ini?”

 

Hyesoo memutar bola matanya seraya berfikir, “hari sabtu~”

 

Kiseop menepuk dahi karena pasrah, pasrah menghadapi pacarnya yang kelewat polos itu. “tanggal berapa sekarang, kau ingat?”

 

“tanggal 2 april tahun 2011, kau tidak punya kalender atau …” hyesoo menghentikan kalimatnya, ia melihat kiseop memegang kedua lengannya dan mendekati kepalanya.

 

“Tuhan~ sembuhkanlah keleletan kekasihku ini.. Bagaimana dia bisa membuatku mencintainya jika ia tak mengingat ini adalah 1st month anniversary kita?” bisik kiseop tepat di depan wajah hyesoo.

 

Jantung hyesoo serasa ingin melompat kesana kemari ketika posisi seperti ini. Mulut kecilnya menganga, otaknya kian sulit untuk berfikir. Ia menelan ludahnya paksa.

Hyesoo mengerjap-ngerjapkan matanya, seolah menganggap semua itu hanya hayalnya.

 

“kau harus di hukum Shin Hyesoo !” bisik kiseop di telinga hyesoo.

 

“apa maksudmu?” hyesoo segera sadar dan membelalakkan matanya.

 

Tangan kiseop kini sudah beralih, menelankup di pipi hyesoo. Wajahnya kian dekat, semakin dekat dan

 

Chuu~

 

Bibir kiseop membelai bibir hyesoo, mata hyesoo seketika langsung membulat. Desir darahnya kian kencang, sarafnya menjadi tegang. Namun bibir kiseop terdiam, memberikan kesan lembut, mungkin untuk penyesuaian. Perlahan saraf hyesoo mulai merileks dengan sendirinya, karna bibir kiseop hanya menempel. Hati hyesoo mulai luluh dan kini pasrah.

 

Perlahan lahan bibir kiseop kembali bergerak. Pelan, sangat pelan. Menimbulkan sensasi geli di otak hyesoo, ketika ia pasrah lidak kiseop berhasil menjebol pertahanan bibirnya. Menggelitik dan mengabsen 1 per 1 rangkaian rapi gigi hyesoo. Tangannya ia gunakan untuk memiringkan kepala hyesoo agar lidahnya lebih leluasa masuk kedalam lagi.

 

“hmmmft,…” desahan muncul disela ciuman panas itu.

 

Kiseop melepaskan ciumannya, ia dapat merasakan hyesoo seperti kehabisan nafas.

 

“hoss.. hoosh~” segera hyesoo menghirup udara. Tenggorokannya serasa kering kehabisan nafas akibat ciuman tadi.

 

Kiseop tersenyum penuh kemenangan, karna merasa bangga atas perlakuan memuaskanya.

 

“kau gila? Aku hampir mati karna ulahmu !” seru hyesoo merasa tak trima karna diserang mendadak.

 

Kiseop menyeringai, “hukumanmu belum selesai Shin Hyesoo.” kemudian mengerlingkan sebelah matanya.

 

Hyesoo bertanya-tanya dalam hatinya, ‘apa lagi yang akan dia lakukan?’

 

Kiseop pergi membawa kue tart tadi, hyesoo kemudian berjalan malas mengekor dibelakangnya. Sambil terus berfikir, hukuman apa yang hendak ia terima sebentar lagi.

 

Kiseop memasuki kamarnya, dan hyesoo tanpa protes ikut masuk. Kemudian kiseop duduk diatas lantai parquet berwarna coklat tua, hyesoo ikut duduk. Kiseop meletakkan kue tadi di depan mereka dan mengambil sebuah korek api.

 

“apa yang akan kita lakukan?” tanya hyesoo.

 

“make a wish for our relationship in the future~” kiseop memejamkan mata sambil mengatupkan kedua telapak tangannya.

 

Hyesoo pun mengikuti apa yang kiseop lakukan, ia menutup mata dan berdoa dalam hatinya.

 

Beberapa menit kemudian mereka membuka mata kembali dan meniup lilin bersama-sama.

 

“kau ingin apa?” tanya hyesoo.

 

“nanti kau juga akan tau, kau sendiri?” kiseop menatap hyesoo.

 

Dengan polosnya hyesoo menjawab, “aku ingin menikah denganmu kis,” wajah hyesoo bersemu merah, ia menundukkan kepalanya.

 

Kiseop langsung merengkuh tubuh hyesoo.

 

“aku ingin kau juga kelak yang melahirkan anak-anak ku hye-boo,” kiseop menenggelamkan kepala hyesoo di dada bidangnya sambil membelai rambut hyesoo.

 

“kenapa jadi hye-boo?” tanya hyesoo lagi, nyaman di dalam pelukan kiseop.

 

“itu panggilan sayangku untukmu, di hari indah ini.”

 

Hening..

 

Cukup lama mereka diam dalam posisi berpelukan. Kiseop mengangkat kepala hyesoo agar mereka dapat bertatap muka.

 

Tersenyum, sepasang senyum penuh makna tersungging di wajah mereka berdua. Kiseop mendekatkan wajah hyesoo, lebih dekat. Hingga jarak wajah mereka hanya tinggal sekitar 2cm. Hyesoo memejamkan matanya, kiseop mendekati bibir hyesoo dan,

 

Chu~

 

Mereka berciuman lagi.

Kali ini hyesoo tak menolak, ia percaya pada kiseop. Dengan mudahnya lidah kiseop masuk menerobos bibir hyesoo, tanpa perlawanan. Kiseop mendorong tubuh hyesoo pelan hingga tubuhnya berada diatas tubuh hyesoo, namun ciuman mereka belum lepas. Hyesoo lagi-lagi tidak menolak, sepertinya ia mulai menikmati ciuman yang diberikan kiseop.

 

Satu tangan kiseop menyangga tubuhnya di lantai, agar tak sepenuhnya menimpa tubuh hyesoo. Tiba-tiba tangannya yang lain sudah berada diatas buah dada hyesoo, ia meremasnya. Pelan, pelan sekali kiseop meremasnya, hingga hyesoo jadi sedikit mengerakkan kepalanya. Sensasi yang aneh mungkin, mulai menjalari tubuh hyesoo. Hati kecilnya kali ini pasrah akan perlakuan kiseop.

 

 

Merasa dirinya sudah diterima, kiseop memberanikan dirinya membuka 1 per 1 kancing baju seragam hyesoo. Sementara hyesoo hanya memejamkan mata menikmati semuanya, tangan kiseop menyusup masuk ke dalam seragam hyesoo yang terbuka. Menggerayangi punggung hyesoo, sepertinya mencari pengait bra yang dikenakan pacarnya.

 

Sepersekian menit kemudian kiseop berhasil melepas bra yang dikenakan hyesoo tanpa mencopot seragamnya. Hyesoo terus menggeliat, merasa tubuhnya geli tatkala tangan kiseop meremas payudaranya yang sudah tak terbalut bra lagi.

 

Kiseop melepaskan ciuman mereka, ia menjilati leher hyesoo dengan sedikit kasar. Membuat kaki hyesoo menendang-nendang di udara. Tangan hyesoo malah menekan kepala kiseop, meminta lebih. Mungkin naluri hyesoo mulai menuntunnya berbuat demikian.

 

“geeelii~ kis,” desah hyesoo ketika lidah kiseop sudah sampai diatas niplenya.

 

Kiseop tak menghiraukan ucapan hyesoo, ia mengigit kecil buah dada hyesoo.

 

“hentikan kis, itu … sa.. kit,” jerit hyesoo ketika itu. Ia menjambak rambut kiseop hingga kepala kiseop terlepas dari dadanya.

 

“kau tidak suka? Tapi ini enak hye-boo~” tanya kiseop bingung menatap pacarnya itu. Sambil bertatapan ternyata kiseop membuka resleting celananya sendiri.

 

“tapi kau kasar, hampir putus rasanya saat kau gigit..” rengek hyesoo manja.

 

“fine~ kalau begitu aku langsung saja ya..” tanpa aba-aba kiseop langsung melepas celana dalam hyesoo.

 

Dan untuk yang kesekian kalinya, hyesoo tidak protes, ia menerima perlakuan kiseop. Kiseop menyentuh bagian kegadisan hyesoo dengan pelan, lembut. Kiseop merasa bagian itu sudah basah.

 

“jangan takut, ini tidak akan bahaya. Hanya saja sedikit sakit. Gengam lenganku..” jelas kiseop.

 

Hyesoo mengenggam lengan kekar kiseop yang menyangga tubuhnya. Hyesoo menutup mata sembari kiseop sibuk dengan urusannya. Kiseop tengah memijat-mijat sejenak kejantanannya, ia lantas menggosokannya pada kewanitaan hyesoo agar lebih keras. Sesekali hyesoo mendesah dan mengerang atas itu, kesadaran hyesoo sepenuhnya hilang. Ia hanya menggit bibir bawahnya itu agar tidak mendesah terus.

 

Merasa miliknya sudah cukup kuat, kiseop menusukkan kejantanannya pada bagian vital hyesoo dengan perlahan.

 

“auuch~” erang hyesoo menahan sakit dibawah tubuhnya. Ia mengeratkan cengkramannya pada salah satu lengan kiseop.

 

Kiseop mengangkat sedikit tubuh atas hyesoo dari lantai, memaksakan juniornya untuk melesak lebih dalam. Hyesoo menitikan air mata menahan sakit yang menghujam bagian vitalnya. Kiseop menambah tenaga untuk memasukkan kejantanannya dalam sekali sentakkan. Ia melihat hyesoo meneteskan kristal cair dari ekor matanya. Karna tak tega, kiseop merengkuh tubuh hyesoo dalam pelukannya, membuat posisi mereka menjadi berpangkuan.

Hyesoo masih menutup matanya, kiseop segera mengelap air mata hyesoo dan menyadarkan kepala hyesoo di bahunya. Sepertinya hyesoo sudah tenang, dengan hati hati kiseop menggerakkan pinggulnya maju mundur. Sementara tangannya memegangi pinggul hyesoo. Merasakan sensasi baru yang, mmm,, sebagian orang bilang ‘itu nikmat’ , hyesoo mengeratkan kedua tangannya memeluk kiseop. Dan kakinya juga ikut melingkar ditubuh kiseop.

 

Merasa sudah diterima kiseop pun menambah ritme geraknya. Tanpa mereka sadari berbagai desahan muncul hingga akhirnya meraka merasa akan ada sesuatu yang ingin keluar.

 

Dengan sigap kiseop langsung melepas benda berharganya dari tubuh hyesoo.

 

“mungkin kita harus menahannya, aku tau kau pasti tak ingin menghentikan sekolahmu..” jelas kiseop lalu membiarkan cairan putih kental keluar dari kejantanannya diluar tubuh hyesoo.

 

–FIN–

hahhh.. capek, ngos”an bikinnya >,<

nyerah deh bikinnya !!

Iklan

Tentang piiapiiapiio

just freaky girl
Pos ini dipublikasikan di FF, NC 17, Ukiss dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s