Take Me Away / Just a Dream? (nc-17) | U- KISS Fict


Title : Take Me Away

Sub-title : Just a Dream ? (nc 17)

Author : @piiapiiapiio

Cast :

Shin hyesoo as dongho’s sisters

Shin dongho as hyesoo’s sisters

Shin soohyun as hyesoo and dongho’s father.

Lee eusebio as soohyun’s friend.

Lee kiseop as eusebio’s son.

And other cast.

ini ff nc yang biasa sih menurutku :O gada yang spesial, mungkin alurnya aja beda. karna genrenya emang romance, oke happy reading ya 🙂
buat yang mau ninggalin jejal itu lebih bagusssssssssssss 😛

“kenapa kau tak memakai sepatu pemberianku?” omel kiseop yang melihat pacarnya tidak memakai sepatu yang ia berikan.

 

“come on~ itu hal sepele kiseop. Aku janji akan memakainya lain kali. Aku terburu-buru tadi.” sergah hyesoo seolah tak bersalah.

 

“oke, untuk hari ini aku maklumi, namun jika kau ulangi. Maka akan ku cium kau. Haha~”

 

“aku benci padamu !” hyesoo nyengir sambil melipat tangan didadanya.

 

“sial ! Kenapa bisa turun hujan sederas ini ?” kesal kiseop sambil memukul kemudi mobilnya.

 

“sepertinya tuhan tak merestui rencana kita..” (u.u)

 

“kita kembali kerumahku saja. Aku tak ingin nyawa kita terancam jika ngotot pergi..” usul kiseop.

 

“mari~” kiseop mengajak hyesoo memasukin rumahnya setelah mereka sampai.

 

Mereka berdua pergi menuju ruang keluarga dan duduk bersampingan di sofa.

 

“kau lapar?” hyesoo menoleh lalu memegangi perutnya.

 

“ada makanan?”

 

“entahlah~ mari kita buat saja.” kiseop beranjak.

 

Hyesoo hanya mengekor menuju dapur yang ternyata letaknya tak begitu jauh dari tempat mereka tadi.

 

Kiseop membuka lemari pendingin dan menjulurkan kepalanya kedalam. Mencari sesuatu yang dapat segera ia makan.

 

“nihil~ kau mau masak?” tawarnya.

 

“ani.. Kau saja yang masak. Aku ga bisa masak.” tolak hyesoo.

 

“kau payah !” ledek kiseop.

 

“biarin~” jawab hyesoo dengan santainya.

 

Kiseop memotong beberapa buah yang ada di kulkas. Sementara hyesoo hanya memandanginya dari samping. Ia menyadarkan tubuhnya di meja.

 

“aku haus kis !” rengeknya pada kiseop.

 

“ambil saja di kulkas, kau kan punya tangan dan kaki sendiri.” masih tetap fokus memotongi buah.

 

Hyesoo berjalan mendekat kearah kulkas. Ia memasukkan kepalanya menyusuri kulkas. Menatap setiap jengkal sisi kulkas, dan matanya tertarik pada dua buah botol kaca berwarna hijau.

 

“kis, apa ini?” tanya hyesoo dalam posisi semula.

 

Kiseop memindahkan buah yang sudah ia potongi tadi. “yang mana?”

 

“yang ada di botol hijau ini.”

 

Kiseop memutar bola matanya sambil mencerna penyataan pacarnya.

 

“soju~ kau mau?”

 

“itu kan arak, mana boleh aku meminumnya?” hyesoo mengeluarkan kepalanya dan menatap kiseop.

 

Tersenyum, “kau itu bodoh atau tolol ? Memang benar itu arak beras. Kau orang korea tapi tidak tau?” cibir kiseop.

 

“appa tak pernah memberiku seperti ini. Aku pernah melihatnya saat dirumah hyokyo. Orang tuanya meminum itu.” hyesoo menjawab apa adanya.

 

Kiseop mendekatkan diri, membuka lemari esnya lebih lebar dan mengambil 2 botol yang jadi perdebatan barusan.

 

“cobalah~” tawarnya sebelum akhirnya ia mengambil pengungkit untuk membuka penutup botol itu.

 

Hyesoo menatap kiseop masih dengan rasa penasaran. “enak?”

 

Ternyata kiseop sudah membuka penutup dan menegak soju di tangannya. “aaah~” lengguhnya. “ini bisa menghangatkan tubuhmu saat kau merasak kedinginan.” tambahnya.

 

Dengan ragu-ragu hyesoo mencoba mengambil pengungkit dari tangan kiseop dan membuka tutup botol tersebut.

 

Ia menatap kiseop ‘tidak bahaya kan?’ , seolah masih meminta pendapat kiseop. Hanya anggukan yang diberikan kiseop. Perlahan rasa ragu hyesoo memudar seiring dengan persetujuan kiseop.

 

“iuuh” hyesoo nyengir kuda setelah menelan seteguk soju itu. “rasanya aneh ?”

 

Kiseop menertawainya. “kau itu , ku kira kau anak yang pandai. Ternyata bodoh sekali.. Haha”

 

Hyesoo mendelik menatap kiseop.

Hyesoo mendelik menatap kiseop, merasa terremehkan. “cih~ kau menghina?”

 

“hehe kau marah sayang?” kiseop memasang aegyo.

 

Hyesoo menatap sinis kekasihnya dan pergi menuju ruang keluarga, masih dengan botol soju tentunya. Ia melempar tubuhnya ke sofa dan menyalakan tv yang ada di hadapannya. Di dapur kiseop hanya cengar-cengir menertawai tingkah pacarnya. Ia mengambil piring berisi potongan buah dan soju di kedua tangannya, menuju ruang keluarga.

 

“kau masih marah?” tanya kiseop, meletakkan piring dan botol diatas meja. Dengan hati-hati ia menduduki sofa tepat di samping kekasihnya. Hyesoo memasang raut wajah muram dan memaksakan diri konsen pada acara di tv.

 

Kiseop mencoba mencolek lengan pacarnya. Namun reaksi yang ia dapat adalah hyesoo bergeser menjauh. Kiseop mulai merajuk dan memasang aegyo di depan hyesoo.

 

“lepaskan tanganmu !” seru hyesoo sambil mengibaskan tangan kiseop dari lengannya.

 

“kau harus janji tidak akan marah ya?” tawar kiseop. “kalau kau tidak suka, aku bisa mengambilkanmu jus jeruk di kulkas.”

 

“baiklah.” hanya jawaban singkat yang diterima kiseop.

 

Dengan segera ia melepaskan genggamannya dari lengan hyesoo. Kiseop kembali ke dapur untuk mengambil jus yang ia janjikan barusan. Membuka kembali lemari es di dapur dan menuangkan 2 gelas jus jeruk. Di tempatnya, hyesoo mulai lagi kebodohannya.

 

Hyesoo coba-coba menegak kembali soju yang ada ditangannya. Ia masih penasaran dengan rasanya.

 

“huaaa ! Apa yang kau lakukan ?” bentak kiseop yang ternyata sudah berdiri di belakang hyesoo.

 

“uhuk~” hyesoo kaget dan tersedak, seketika soju ditangannya lepas dan menumpahi dressnya.

 

“sial , kenapa kau mengagetkanku? Kau ingin membunuhku?” omel hyesoo yang merasa terpojok. Ia malu mengakuinya.

 

Kiseop hanya menahan tawanya, “nyalimu besar juga ya?”

 

Kiseop duduk di samping hyesoo dan memberinya segelas jus jeruk botolan yang dijual di supermarket.

Hyesoo menerimanya masih dengan wajah cemberut. Ia langsung menegak habis jus jeruk yang diberikan kiseop.

 

Hyesoo merasa ada sesuatu yang aneh menjalari tubuhnya. Semakin lama kepalanya kian terasa berat. Tubuhnya berontak menginginkan sesuatu.

 

“kau kenapa?” samar-samar ia mendengar pertanyaan kiseop. Hyesoo memejamkan matanya mencoba menahan sakit di kepalanya.

 

Kiseop menyeruput jus jeruk yang ada di tangannya. Namun hanya setengah gelas yang ia minum. Tiba tiba ia juga merasakan sesuatu yang aneh di tubuhnya. Sebuah sensasi yang kian bergejolak didalam dirinya. Sepertinya ia merasakan bagian vitalnya bergerak menegang. Entah apa itu.

 

Hyesoo masih menahan sakit dikepala dan tubuhnya terasa panas. Tanpa sadar ia melepas cardigan yang ia kenakan.

 

Kini hyesoo hanya memakai dress model kemben saja. Ia menatap mata kiseop, ternyata kiseop juga tengah menatapnya. Sejenak mereka berdua bertatapan, tangan kiseop mendekati tangan hyesoo dan kemudian mereka saling berpegangan namun masih bertatapan.

 

“kau merasakan sesuatu?” tanya kiseop.

 

“ne~ apa kau juga? Rasanya aneh sekali.” kiseop mendekatkan wajahnya ke wajah hyesoo.

 

Mereka saling menautkan padangan beberapa saat. Namun seperdetik kemudian mereka sudah berciuman.

 

 

Cahaya kuning kemerahan menembus kaca dan terpantul masuk di lantai parquet. Sebagian cahaya yang tidak terbelokkan menembus perlindungan mata seorang yang kini mulai terusik.

 

Kelopak mata yang tadinya saling merekat kini sedikit merenggang. Perlahan-lahan mulai terbuka. Sepasang mata yang baru terbuka itu mengedarkan jarak pandangnya menyusuri tiap sudut ruangan yang di cat warna putih. Terasa asing baginya, seperti tempat yang baru pertama ia lihat. Ia baru menyadari dadanya terasa berat, seperti tertindih sesuatu. Hyesoo langsung menyingkirkan benda kekar yang ternyata tangan seorang lelaki. Ia menoleh kesamping dan tampak shock melihatnya, bagai menginjak ribuan pisau. Airmatanya tak kuasa menyembul keluar melalui ekor matanya saat ia tau lelaki yang tidur bersamanya adalah kiseop. Semakin penasaran, hyesoo pun menyingkap selimut tebal yang menutup tubuhnya. Airmatanya semakin mengalir deras seketika, dilihatnya tubuh mereka polos tanpa busana apapun. Hyesoo segera bangkit dan memindahkan tangan yang sempat menindih dadanya. Ditariknya selimut tebal warna putih dan melilitkan ditubuhnya sebelum akhirnya dia pergi menjauh dari lelaki itu. Dengan terisak ia melangkah gontai mencari pakaiannya yang telah tanggal. Terasa perih menyergap dibawah sana. Namun hyesoo tetap berusaha menyeret kakinya melangkah, sesekali ia mengigit bibir bawahnya agar sedikit melupakan sakit di bagian lain.

 

Apa yang telah terjadi padanya membuat hyesoo kehilangan fikiran. Kini entah bagaimana perasaannya, seperti tercacah mungkin *daging kali –a*.

 

“hyesoo-ah~ cepat turun. Appa sudah menyiapkan makan malam dibawah. Cepat turun ! Aku sudah lapar.” teriak dongho dari balik kamar adiknya.

 

Sementara itu, yang di panggil masih terisak memeluk lututnya di pojok kamar. Rasa berdosa selalu membayanginya, belum lagi fikirannya tentang masa depannya yang sudah tak tampak cerah lagi di benaknya. Bayangan hitam seolah tak ingin lepas dari tubuhnya. Perasaan takut, bersalah serta penyesalan yang sangat besar berangsur-angsur menghujam hatinya. Bayangkan jika semua itu terjadi padamu, dikala usiamu masih sangat indah untuk kau gunakan bermain namun semua itu sirna dalam sekejap mata.

 

Mungkin kau juga akan menangis seperti gadis ini, oh bukan, dia bukan gadis lagi sekarang ini. Entah apa itu namanya. Seolah bagai sumber yang tak pernah kering, airmatanya terus saja menetes. Itu membuat bendungan dimatanya mengembang, -sembab. Sejuta pertanyaan menghampiri dirinya, dan hanya dialah yang bisa menjawab semua itu. Terbesit sebuah ide untuk mengakhiri hidupnya.

 

“sayang~ apa kau di dalam?” tiba-tiba sebuah suara membuyarkan lamunan hyesoo. Suara lembut bagai malaikat yang selalu berada disampingnya. Namun tidak untuk peristiwa tadi pagi.

 

‘kreeek’ pintu kamarnya kini terbuka, dan nampaklah si pemilik suara malaikat tadi.

 

Perlahan langkah kaki semakin mendekat. Hyesoo memendam kepalanya diantara pelukan lututnya, sesenggukan akibat tangis masih terdengar memenuhi ruangan.

 

“apa yang membuatmu menangis?” hyesoo mengangkat wajahnya yang terbenam dan menatap sosok yang berdiri dihadapannya. Perasaan nista semakin mendesak hatinya, tak tega ia menatap sosok itu. Hyesoo bangun dan memeluk malaikat tak bersayapnya itu. Airmatanya semakin menjadi deras. Ia merasa jadi makhluk paling menjijikkan saat ini. Bagaimana bisa ia menyalahgunakan kepercayaan dari appanya ini?

 

Soohyun kaget melihat tingkah aneh putrinya ini. Sepertinya ada yang salah, ia membalas pelukan erat hyesoo.

 

“kau kenapa sayang?” dielusnya rambut tebal hyesoo.

 

Hyesoo tidak menjawab pertanyaan soohyun. Ia tak mungkin berkata yang sebenarnya pada soohyun. Tidak, hyesoo belum siap dilempar ke jalanan karna telah mengakui peristiwa memalukan itu. Hyesoo berfikir ditengah isakannya.

 

“apa aku boleh bertanya sesuatu?” tiba-tiba hyesoo angkat bicara.

 

“apa yang ingin kau tanyakan?” soohyun merenggangkan pelukannya. Menatap wajah putrinya.

 

“dimana umma berada ? Kenapa selama 16th ini kami tak pernah tau siapa, dan dimana umma kami?” akhirnya hyesoo membahas hal lain. Soohyun kaget mendengar pertanyaan putrinya tersebut. Hatinya bagai tercabik ketika luka masalalu terusik.

 

Ya, soohyun memang tak pernah menceritakan apapun tentang siapa ibu dari anak-anaknya selama 16th. Dia bahkan tak memperlihatkan bagaimana wajah ibu mereka walaupun hanya melalui foto. Soohyun bingung harus bagaimana mengatakan hal ini pada anaknya, mereka bukan anak kecil yang dapat ia bohongi sekarang.

 

“kenapa tiba-tiba kau bertanya seperti itu, sayang?” soohyun memegangi kedua lengan putrinya, menatapnya intens. Sorot mata hyesoo seolah mendesak soohyun agar segera menjawab pertanyaannya.

 

“ummamu sudah meninggal sayang,” jawab soohyun lesu.

 

“dimana makamnya?”

 

“ada di california~ appa tak punya cukup uang untuk mengajak kalian kesana.” jelas soohyun.

 

Hyesoo semakin merasa bersalah, ia salah mengalihkan bahan pembicaraan. Ia merasa telah menyakiti perasaan appanya dengan pertanyaannya tersebut. Harusnya ia sadar, appanya sudah bekerja keras sendirian untuk menghidupinya dengan dongho selama 16th, itu jelas bukan hal mudah bagi seorang lelaki. Mata hyesoo kembali berkaca-kaca, ia langsung memeluk erat soohyun lagi.

 

“jeongmal mianhae appa~” soohyun ingin menangis saat ini, ia tak tau lagi apa yang akan ia lakukan, namun soohyun berusaha menahannya. Ini hanya akan membuat anaknya khawatir.

 

“harusnya aku tak pernah menanyakan semua itu. Bagiku kau lebih dari segalanya, appa~.”

 

 

 

Di sekolah hyesoo hanya diam saja. Hari ini dia memilih berdiam diri. Bayangan akan peristiwa itu selalu menhampiri fikirannya. Rasanya memang tak mudah bagi anak seumurannya menerima semua itu. Byangkan saja jika itu terjadi padamau. Kau harus merasakan hal yang harusnya kau rasakan saat dewasa nanti. Secara kejiwaan itu memang belum pantas di terima hyesoo.

“hyesoo~ kajja kita pulang..” ajak yongra pada hyesoo yang masih melamun di kelas.

 

 

Kedua sahabatnya yang lain juga ada di samping hyesoo berdiri menungguinya bicara. Entah mereka semua seperti tak terlihat oleh hyesoo , berbagai pertanyaan muncul, namun tak satu pertanyaanpun di jawab oleh hyesoo. Akhirnya hyesoo mau berdiri dan mereka semua pulang bersama dalam keadaan hening. Yongra dan jungrae berpamitan karna mereka masih harus mengikuti ekskul. Hanya tinggal hyokyo dan hyesoo. Di gerbang sekolah, mereka berhenti sejenak.

“hyesoo~ ada apa denganmu kali ini? Kenapa kau diam saja? Ceritakan padaku jika kau punya masalah..” pinta hyokyo.

 

Hyesoo hanya mengumbar senyum di bibirnya, mulutnya enggan menjawab.

 

“hyesoo~” tiba-tiba ada suara yang mendekat terdengar memanggil hyesoo.

Hyesoo menoleh mencari asal suara tersebut. Didapatinya kiseop berlari kecil kearahnya. Bukannya menanggapi ,hyesoo malah lari menjauhi kiseop. Hyokyo bingung, ternyata hyesoo juga mendiamkan kiseop. Dia berfikir bahwa masalah kediaman hyesoo hari ini ada sangkut pautnya dengan kiseop.

 

“chakkaman hyesoo~ ” teriak kiseop mempercepat larinya.

 

SREEEG―

 

Tiba-tiba saja hyesoo merasa ada yang menahan tubuhnya.

 

“aku ingin menjelaskan semua padamu hyesoo, sayang. Kumohon dengarkan aku.” ternyata tangan kiseop sudah melingkar di tubuh mungil hyesoo, memeluknya dari belakang.

 

Beberapa pasang mata tengah menatapi mereka berdua, namun baik hyesoo maupun kiseop diam saja.

 

Bulir-bulir kristal hangat menjalar dipipi hyesoo, hatinya masih teramat sakit. Jiwanya masih mengalami ketakutan yang membuatnya tak tenang. Disatu sisi ia sangat benci pada kiseop, disisi lainnya ia ingin mengetahui bagaimana semua itu bisa terjadi.

 

“ijinkan aku membuktikannya sekali saja, bahwa ini bukan sepenuhnya salahku. Dengarkan aku hyesoo..” pinta kiseop dengan parau.

 

Pergulatan di hati hyesoo perlahan dapat terminimalisir. Hatinya luluh dan memberikan 1 kesempatan pada kiseop untuk membuktikan pernyataannya. Mereka berdua pergi menuju rumah kiseop, tempat semua petaka dimulai.

 

Kiseop menuntun hyesoo menuju dapur, tempat awal ditemukannya masalah.

 

“kau lihat ini, ini adalah memo yang kita lupakan..” titah kiseop dengan antusias menunjukkan sebuah memo yang tertempel di pintu kulkas.

 

Hyesoo membaca isi catatan kecil tersebut dengan saksama. Berikut isi memo tersebut :

 

“kiseop sayang~ kau jangan coba-coba meminum jus jeruk botolan dikulkas ! Itu milik appamu, kau belum boleh meminumnya. Hati-hati soju yang ada didalam kadar alkoholnya tinggi, jangan minum terlalu banyak ! Jangan sembarang menyimpan makanan di kulkas. Itu bisa membuat bau. Jaga dirimu baik-baik.”

 

Begitulah isi memo yang sepertinya ditulis oleh umma kiseop. Ya kedua orang tua kiseop memang tengah tidak di korea.

 

Kepercayaan hyesoo perlahan mulai kembali, ditatapnya kiseop dengan penuh harap. Kiseop membalas tatapan itu dengan segurat senyum. Kemudia ia merogoh sesuatu dari saku celananya.

 

“i will marry you !” ucap kiseop lembut sambil menunjukkan 2 buah cincin dari genggaman tangannya yang baru dibuka.

 

Hyesoo membungkam mulutnya karna tak percaya dengan apa yang dilihatnya. 2 buah cincin emas putih di tangan kiseop.

 

“aku ingin menjadi orang pertama dan terakhir yang menjamahmu~ aku harap kau juga begitu padaku hyesoo..” ujar kiseop seraya mengambil tangan kiri hyesoo.

 

Hyesoo menelan ludah karna gugup. Bagaimana kiseop bisa memberinya cincin secepat itu?

 

Hyesoo membiarkan tangannya dijamah kiseop untuk disematkan sebuah cincin.

 

“are you really?” hyesoo mencoba meyakinkan.

 

“terserah apa presepsimu.. Tampar pipimu jika kau tak percaya kenyataan ini.. Kkk~” ejek kiseop.

 

Hyesoo memegangi cincin yang sudah melingkar di tangannya, menatapnya seolah ini hanya mimpi. Namun kenyataannya hal ini memang terjadi. Ia langsung mendekap tubuh kiseop, erat. Sangat erat, untuk memastikan ia tak bermimpi.

 

“katakan ini bukan mimpi kis,” gumamnya pelan didalam dekapan tubuh kiseop yang sudah membalas pelukannya.

 

“kau tidak bermimpi hyesoo~ aku mencintaimu.” ucap kiseop sambil tersenyum dan membenamkan kepala hyesoo lebih dalam.

 

–fin–

 

Iklan

Tentang piiapiiapiio

just freaky girl
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s